HAYATAN THAYYIBAH (KEHIDUPAN YANG BAIK)
SOURCE OF RADICALISM IN ISLAM
KORELASI ANTARA TERORISME DAN KONSER LADY GAGA
Prof Dr Morgan Reymonds (guru besar pada Texas University, USA) menyatakan ”Belum ada bangunan…baja…ambruk hanya… oleh kobaran api”.
Michael Meacher (mantan Menteri Lingkungan Inggris, 1997 – 2003) berpendapat ”…perang melawan terorisme… dijadikan…tabir kebohongan guna mencapai tujuan-tujuan strategis geopolitik AS”.
Prof Dr Steven E Jones (guru besar fisika pada Birgham Young University, USA) membeberkan hasil risetnya ”…bahan-bahan peledak telah diletakkan…di bangunan WTC”.
Profesor Steven E. Jones dari Brigham Young University, Utah, yang melakukan penelitian dari sudut teori fisika mengatakan bahwa kehancuran dahsyat seperti yang dialami Twin Tower serta gedung WTC 7 hanya mungkin terjadi karena bom-bom yang sudah dipasang pada bangunan-bangunan tersebut. Teori fisika Jones tersebut tentunya sangat bertentangan dengan hasil penelitian FEMA, NIST dan 9-11 Commision bahwa penyebab utama keruntuhan gedung-gedung tersebut adalah api akibat terjangan pesawat dengan bahan bakar penuh.
Jika benar tragedi tersebut direkayasa, tentu ada tujuan yang lebih besar yang diagendakan setelah kehancuran gedung tersebut. Benar saja, sejak saat itu semua negara menyatakan perang terhadap terorisme, dan celakanya lagi, terorisme itu diidentikan dengan Islam. Sekuat apapun orang menolak mengidentikan terorisme dengan Islam, tidak pernah mengubah persepsi masyarakat yang terlanjur teracuni oleh persepsi yang salah akibat kehancuran gedung tersebut.
Hal inipun terjadi di negara Indonesia. Sejak kejadian tersebut, tiba-tiba muncul teroris-teroris yang kemudian berhasil dilumpuhkan oleh kepolisian. Teroris-teroris tersebut menggunakan simbol-simbol Islam yang sangat kental, mulai dari peci, janggut yang dipanjangkan, baju koko, serta celana yang tidak sampai mata kaki. Jika kita rujuk kepada ajaran Islam, cara berpakaian yang ditampilkan oleh orang-orang tersebut adalah sesuai dengan sunah rasul, tetapi ketika itu digunakan oleh sosok yang dibenci oleh masyarakat karena perbuatannya, secara tidak langsung membentuk persepsi masyarakat bahwa pakaian seperti itu identik dengan terorisme. Jika persepsi ini terbentuk maka umat Islam semakin jauh dari ajarannya. Mereka lebih suka pakaian ala barat yang bebas dari stigma negatif daripada pakaian muslim yang sarat dengan stigma negatif. Sampai di sini, akibatnya ? Tidak. Muslim yang cenderung ingin melaksanakan Islam secara kaffah juga kena getahnya, mereka menjadi perhatian masyarakat karena dicurigai teroris. Hasilnya, masyarakat enggan menjadi muslim yang kaffah, dengan alasan jika muslim terlalu kental, jangan-jangan akhirnya menjadi teroris, jadi lebih baik jadi muslim yang biasa-biasa saja, yang penting muslim.
Ketika politik TERORISME berhasil menjauhkan Muslim dari ajaran Islamnya, maka pada saat itu, begitu gencarnya berbagai konser musik asing masuk ke Indonesia. Ibaratnya ketika gelas kosong dari air jernih, maka segera dimasuki dengan air berwarna keruh agar tidak dimasuki air jernih lagi. Itulah perumpamaan yang pas untuk menggambarkan masyarakat Indonesia saat ini. Ketiga mereka mulai menjaga jarak dari agamanya, maka dengan serta merta mereka segera didekati oleh ideologi-ideologi yang bertentangan dengan Islam, seperti Ideologi yang berdasarkan kebebasan yang kebablasan yang banyak dibela oleh orang-orang liberal saat ini.
Jadi jangang sangka semua itu tidak pernah ada hubungannya. Karena itu mari kita TOLAK KONSER LADY GAGA DAN PENYANYI ASING LAINNYA DEMI TETAP BERDIRINYA NEGARA INDONESIA YANG BERKETUHANAN YANG MAHA ESA.
AGAMA BARU ITU BERNAMA "KEBEBASAN"
Seiring dengan akan tampilnya seorang penyanyi wanita yang biasa mengumbar aurat dan melakukan pornoaksi dalam setiap penampilannya, serta sudah jelas menjadi kontroversi dan mendapat penolakan di berbagai negara, maka demi menjaga budaya dan moral bangsa pihak kepolisian negara tidak memberikan rekomendasi untuk pelaksanaan konser tersebut.
Ketegasan aparat untuk tidak memberikan rekomendasi, kemudian mendapat hujatan dari berbagai pihak, dengan alasan kebebasan berekspresi dan seni, maka mereka tidak puas dengan keputusan kepolisian tersebut.
Wahaiaudaraku, mari kita sesaat melihat keadaan bangsa saat ini. TRIBUNNEWS.COM merilis satu berita yang diterbitkan pada 19 Oktober 2010 bahwa 66 persen remaja putri usia sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) tidak lagi perawan. Data ini beradasar hasil Survei Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) yang dilakukan secara nasional. Jika tahun 2010 jumlahnya sekian banyak bagaimana dengan tahun 2012. Semua ini merupakan kebobrokan moral anak bangsa yang semakin lama semakin buruk saja.
Jika kita memperhatikan fakta di atas, maka apakah kita akan dengan senang hati mempersilahkan seorang tamu yang akan menebar virus-virus kebobrokan moral yang berbahaya bagi kelangsungan bangsa ini di masa yang akan datang. Andaipun benar yang akan menonton itu adalah orang dewasa (>18), tapi tidakkah kita ingat bahwa orang dewasa itu akan menjadi pantutan adik-adiknya. Jika orang dewasa menonton konser tersebut, kemudian dia tertarik dengan fashion yang ditampilkan penyanyi yang suka buka-bukaan tersebut, kemudian para pekerja seni Indonesia mengikuti jejak langkah penyanyi yang gemar menampilkan simbol-simbol setan tersebut, maka musnahlah bangsa ini, karena jika kemarin orang asing yang mengkampanyekan aksi buka-bukaan itu, maka sekarang yang mengkampanyekan aksi buka-bukaan itu adalah bangsa kita sendiri.
Jika hal ini sudah terjadi, apakah orang-orang yang berkoar-koar atas nama kebebasan berekspresi, membela habis-habisan sang penyanyi tersebut, akan menerima ketika ada seorang perempuan yang diperkosa oleh laki-laki yang tidak bisa mengendalikan diri lagi karena terlalu sering melihat hal-hal yang mengundang syahwat, sementara dia tidak memiliki istri untuk menyalurkan syahwatnya. Tidakkah mereka berpikir bahwa mencegah itu lebih baik, daripada dihadapkan kepada akibat yang tidak bisa diperbaiki lagi. Mereka mungkin akan berkata, jika manusia sadar akan hak dan kewajibannya maka seterbuka apapun seorang wanita, laki-laki tidak akan melakukan tindak kejahatan seksual karena alasan menghormati hak-hak orang lain. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa seseorang tidak akan melakukan kejahatan, dan siapa yang bisa menjamin setiap manusia bisa mengendalikan dirinya ketika dia mendapat kesempatan untuk berbuat jahat.
Sikap kelompok yang mendukung tersebut, semakin mengukuhkan bahwa, negara kita sudah tidak lagi sesuai dengan apa yang diamanatkan oleh para pendiri bangsa, yang menyatakan bahwa Negara berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Mereka sudah melupakan satu bagian dari ideologi negara ini, yaitu agama. Agama bukan satu hal yang terpisah dari bangsa ini, tetapi agama menjadi pertimbangan dalam membuat peraturan yang ada di negara ini.
Jika orang-orang tersebut lebih mengutamakan kebebasan berekspresi yang berlebihan sehingga bertentangan dengan agama, maka pada hakikatnya orang tersebut sudah menganggap kebebasan tersebut sebagai agama. Karena menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
Agama tidak hanya mengatur ibadah kepada Tuhan, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan Alam. Jika kebebasan lebih diutamakan daripada aturan-aturan agama, maka telah lahir agama baru di negeri ini. Agama baru itu bernama KEBEBASAN. Na'udzubillahimindzalik.
4 FOKUS DALAM MERAIH SUKSES (LANJUTAN)
Setelah pada posting lalu kita membahas tentang dua fokus pertama, yaitu fokus pada tujuan dan fokus pada let's go! Pada posting kali ini akan melanjutkan dua fokus lagi yang belum terbahas. Ini dia bahasan tersebut silahkan direnungi di bawah ini :
- Fokus pada saat iniSeorang petani baru saja mengalami gagal panen, hama wereng yang tak terkendali telah meluluh lantakkan semua tanaman padinya sehingga musim tanam tahun ini dia rugi besar, bagaimana tidak rugi, seluruh lahan yang dia garap tidak menghasilkan padi barang satu kilogram pun. Waktu pun terus berjalan, seiring dengan datangnya musim hujan datanglah musim tanam padi. Pak Tani tidak larut dalam kesedihan karena gagal panen pada musim tanam lalu, dia juga tidak merasa takut jika hama wereng akan kembali meluluhlantakkan tanaman padinya, yang ada dalam benak Pak Tani adalah telah datang musim tanam dan saya harus mengambil peluang ini.
Kasus di atas adalah teladan yang baik bagi kita. Hidup bagi kita adalah peluang, setiap peluang itu datang ke hadapan kita, maka kita jangan sungkan untuk mengambilnya. Lupakanlah semua masa lalu yang buruk yang pernah kita alami. Jangan biarkan masa lalu membuat kita bimbang dalam mengambil langkah hari ini. Kita juga jangan terlalu khawatir dengan masa depan yang buruk yang akan menimpa kita. Tidak ada seorang pun yang mengetahui nasibnya di masa depan, karena itu kenapa kita harus khawatir oleh masa depan, bukankah itu belum pasti apakah kita sukses atau gagal ? Kalau saja Pak Tani larut dalam kesedihan setelah gagal panen dan merasa takut yang berlebihan bahwa tanaman padinya akan kena hama wereng lagi, maka mungkin dia akan berkata, "Ah aku tidak akan menanam padi lagi, karena musim tanam yang lalu pun kena hama wereng, dan aku takut hal itu akan terjadi lagi". Kita tahu Pak Tani tidak melalukan itu karena Pak Tani Fokus pada waktu saat ini.
Pak Tani tidak peduli lagi dengan kejadian yang telah lalu. Masa lalu baginya bukan untuk disesali, masa lalu baginya adalah pelajaran. Dia tahu hama wereng telah menyerang tanamannya, dan sekarang diapun tahu bagaimana cara pencegahan dan penanganan hama wereng lebih awal sehingga tidak akan menggagalkan panennya lagi. Dia pun fokus kepada kegiatan yang sedang ia lakukan sekarang, dia fokus bagaimana merawat tanaman padi agar tumbuh subur, tidak ada gulma, tidak ada penyakit dan kebutuhan air bagi tanaman padinya terpenuhi.
Sikap ini sungguh luar biasa, dia berusaha berdiri tegak setelah terjatuh, dia tidak memperdulikan bahwa ia pernah jatuh, tetapi ia sangat peduli bagaimana agar dia tidak jatuh lagi. Dia mengerahkan semua kemampuan untuk memberikan yang terbaik pada masa sekarang. Dia sadar bahwa seberat apapun rasa sesal dalam hati tidak akan pernah mengubah masa lalu. Masa lalu hanyalah sejarah yang tak akan kembali lagi. Jika masa lalu tak pernah bisa diubah dan tak bisa kembali lagi, lalu untuk apa disesali, toh penyesalan tak bisa mengubah segalanya. Penyesalan hanyalah buang-buang waktu saja. Lebih baik kita fokus untuk melakukan hal terbaik pada masa sekarang, karena waktu yang dapat kita ubah, waktu yang dapat kita manfaatkan adalah waktu yang sedang kita jalani. Kita tidak mampu untuk mengubah masa lalu dan kita juga tidak mampu untuk meraih masa depan, kita hanya mampu mengubah dan meraih masa yang sedang kita jalani, semuanya terserah kita, apakah kita akan melakukan hal buruk pada saat ini atau melakukan hal terbaik, dan apakah kita akan menjatuhkan pada pilihan yang buruk padahal kita selalu ingin meraih yang terbaik, apakah Pak Tani akan memilih untuk tidak memelihara tanaman padinya padahal dia sendiri tidak suka jika gagal panen ? karena itu tidak ada pilihan terbaik untuk dilakukan pada saat ini kecuali kita melakukan yang terbaik bagi diri kita.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa kita memiliki kuasa penuh untuk meraih dan mengubah waktu saat ini dan tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali melakukan yang terbaik untuk meraih tujuan kita.
- Fokus pada yang terbaikPada suatu hari seorang ibu membawa dua buah kue berbeda ke hadapan anaknya yang baru berusia tiga tahun. Kue pertama hanya seonggok kue tanpa hiasan apapun di atasnya, sedangkan kue kedua adalah kue yang sama hanya saja di atasnya ada hiasan bunga-bunga yang terbuat dari coklat. Kemudian ibu tersebut menyuruh kepada anaknya untuk memilih, apakah akan mengambil kue pertama atau mengambil kue yang kedua. Sang anak pun dengan sangat yakin mengambil kue yang kedua.
Kasus di atas menunjukkan bahwa menyukai yang terbaik merupakan fitrah manusia. Tak ada seorang pun yang jika dihadapakan kepada dua pilihan antara baik dan terbaik, tanpa ada resiko apapun dari dua pilihan tersebut, kemudian orang tersebut memilih yang baik, tidak, dia pasti akan memilih yang terbaik.
Begitu halnya dengan hidup kita, setelah kita menentukan tujuan yang ingin kita capai, kemudian kita mulai berbuat untuk meraih tujuan tersebut, maka perbuatan yang terbaiklah yang harus kita lakukan. Jangan sekali-kali menentukan standar rendah untuk diri kita, karena itu tidak sesuai dengan fitrah kita. Jangan bangga ketika kita bekerja di kantor hanya biasa-biasa saja tetapi kita digaji seperti orang yang bekerja dengan kualitas terbaik. Bukan berarti kita meminta agar gaji kita diturunkan sesuai kadar pekerjaan kita, tetapi kita tingkatkan kualitas kerja kita sehingga layak untuk mendapatkan gaji sebesar itu, bahkan lebih baik dan lebih baik lagi, maka itu akan membuka peluang yang lain bagi kita untuk mendapatkan lebih banyak dari sebelumnya.
Kita yakin bahwa yang terbaik akan menjadi pilihan semua orang, oleh karenanya melakukan yang terbaik merupakan hal yang wajib kita lakukan, agar kita menjadi pilihan semua orang. Jika hal itu terjadi maka peluang demi peluang akan terus menghampiri kita. Kita sering lupa akan hal itu, kita suka merasa cukup dengan kualitas kerja kita yang hanya asal-asalan, sehingga karier kita mandeg dan sulit berkembang. Mungkin pola pikir seperti ini harus kita ubah, buanglah semua pemikiran jadul itu, fokuslah untuk melakukan yang terbaik dalam setiap waktu dan kesempatan dan jangan pernah puas dengan hanya melakukan yang biasa-biasa, apalagi jika manfaat dari perbuatan terbaik itu berdampak langsung bagi diri kita, seperti kasus Pak Tani di atas, semua yang dilakukan Pak Tani akan berdampak langsung terhadap keberhasilan dirinya. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain dalam hidup kita kecuali melakukan yang terbaik, karena hukum yang berlaku, yang terbaiklah yang akan dipilih oleh masyarakat, jadi fokuslah untuk melakukan yang terbaik.
Semoga dengan memfokuskan diri kita pada empat hal di atas kita menjadi manusia yang lebih baik dalam bertindak dan berusaha, dan yang paling penting kita bisa terus berkembang ke arah yang lebih baik dan meraih sukses seperti yang kita cita-citakan. Semoga.
4 FOKUS DALAM MERAIH SUKSES
Semua orang menginginkan dirinya berkembangan ke arah yang lebih baik, memiliki motivasi, semangat, pantang menyerah, dan tentu saja ingin mencapai apa yang dicita-citakannya.
Harapan tersebut tentu saja bukan harapan kosong yang hanya terucap dari lidah tapi tidak diikuti oleh hati karena hatinya terlanjur mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin. Andaipun itu mungkin, jalan untuk mencapainya akan berliku-liku dan penuh batu, terjal dan penuh jurang, bahkan jalan tersebut sangat jauh dan mungkin kita akan lelah sebelum sampai ke puncak tujuan kita. Keadaan hati yang seperti ini akan mendorong orang tersebut untuk berpikir kembali dan memilih hal yang memiliki resiko sedikit dan dengan tingkat kesulitan yang ringan, kalo dalam istilah game memilih level-level yang rendah demi untuk menghindari tantangan. Jika benar kita telah menentukan pilihan seperti ini berarti kita telah memilih kemungkinan terburuk dari hidup kita, karena kita memilih hal-hal mudah saja untuk mendukung hidup kita, yang tentu saja derajatnya juga tidak terlalu tinggi. Sehingga akhirnya kita merelakan hidup kita apa adanya sebelum kita berjuang untuk kemungkinan terbaik, patah semangat, kurang keras dalam berusaha dan tidak jeli dalam mengambil langkah, untuk itu hendaknya kita memperhatikan beberapa fokus di bawah ini, agar kita tidak terjebak dalam pertimbangan negatif yang mematahkan semangat dalam meraih cita-cita kita. Apa sajakah itu ? silahkan untuk direnungi di bawah ini :
- Fokus pada tujuan
Di suatu desa ada dua orang pemuda. Ketika keduanya ditanya apa yang diinginkan dalam jangka waktu dekat ini ? pemuda pertama menjawab, "Entahlah aku masih bingung", sedang pemuda kedua menjawab, "Dalam jangka waktu dekat ini saya ingin menjadi petani sukses, karena potensi pertanian di desa ini sangat baik". Pemuda pertama adalah orang yang hidup tanpa tujuan, dan pemuda kedua ia telah jelas menyatakan tujuannya. Setelah dilakukan pengamatan perilaku kedua orang ini, maka pemuda yang pertama hanya diam, nganggur, hanya mengikuti arus saja, sedangkan pemuda yang kedua dia berusaha untuk mencari lahan terbaik, kemudian mencari informasi tentang pertanian yang akan dilakukannya, mencari bibit unggul dan melakukan semua yang direncanakannya.
Dari kasus di atas kita bisa mengetahui bagaimana kuatnya pengaruh tujuan dan cita-cita dalam memotivasi seseorang untuk bergerak dan berjuang, oleh karena itu tentukanlah dari sekarang apa yang kita capai dalam jangka waktu dekat ini ?
Dalam menentukan tujuan sebaiknya tujuan dengan kualitas terbaik menjadi acuan kita. Jangan sekali-kali menentukan tujuan dengan kualitas biasa-biasa. Jika demikian maka kita telah terperangkap dalam rendah diri yang mendorong kita mengambil kemungkinan yang paling mudah dengan kualias biasa-biasa. Anggap saja itu sebagai godaan nafsu yang tak mau dibebani oleh lelahnya perjuangan. Ingatlah nafsu itu adalah musuh terberat kita, tetapi jika kita bisa mengalahkan nafsu ini maka kita langkah kita akan terasa ringan dan mudah karena tantangan dari luar diri kita akan lebih mudah untuk kita hadapi daripada tantangan dari dalam diri kita sendiri. Tantangan dari luar tidak akan bisa menghentikan tekad yang kuat yang tertanam dalam hati kita, sebaliknya dorongan dari luar tidak akan memiliki pengaruh apa-apa jika kita sendiri tidak memiliki semangat untuk melakukannya.
Hendaknya tujuan yang kita tetapkan adalah tujuan yang rasional. Tujuan yang rasional adalah tujuan yang dapat tercapai jika kita berusaha keras untuk mencapainya. Hal ini penting, karena ketika kita menentukan tujuan yang kita sendiri tidak tahu langkah-langkah untuk mencapainya maka itu adalah bukan tujuan, tapi itu hanya angan-angan saja.
Dari point pertama ini bisa kita simpulkan, tentukanlah tujuan rasional setinggi mungkin sebagai acuan kita dalam melangkah.
- Fokus pada let's go !
Andi adalah seorang lulusan SMK jurusan otomotif, setelah keluar dia sudah punya rencana ingin mendirikan bengkel kecil-kecilan sebagai tahap awal sekaligus pemandian motor. Rencana andi ini mendapat dukungan kuat dari orang tuanya. Namun setelah sekian bulan lulus, Andi belum mengambil langkah apapun, dia masih termenung dan berfikir bagaimana agar bengkelnya bisa memberikan pelayanan terbaik sehingga bisa menarik konsumen, bagaimana manajemen tenaga kerja, bagaimana pengadaan stok barang dan lain-lain. Akhirnya Andi larut dalam berbagai rencananya yang belum terealisasi, timbullah pertimbangan lain sehingga hampir saja Andi tidak jadi melaksanakan semua rencananya.
Memikirkan langkah-langkah terbaik dalam melaksanakan sebuah rencana adalah hal yang harus dilakukan sebelum kita melangkah lebih jauh, tetapi jika hal itu dilakukan secara berlarut-larut, maka itu adalah kesalahan besar, karena permasalahan tidak akan selesai hanya dengan dipikirkan, tetapi masalah akan selesai jika kita lakukan. Artinya cukuplah beberapa minggu untuk menentukan langkah-langkah dalam memulai sebuah rencana, dan jangan menunda waktu lagi langsung kita LETS GO!.
Bagaimana dengan beberapa masalah yang belum terpikirkan solusinya ? bukankah pengalaman itu adalah guru yang terbaik. Begitu banyak orang yang justru dengan langsung berbuat dia menemukan solusi terbaik bagi permasalahannya. Hal ini bisa kita maklumi, mengingat dengan langsung berbuat kita akan lebih mendalami permasalahan dan solusi pun akan datang dalam benak kita. Andaipun kita gagal dalam solusi tersebut maka kita akan berusaha mencari cara lain untuk penyelesaiannya.
Ketika kita langsung berbuat, maka inspirasi-inspirasi akan datang menyambut kita. Sesuatu hal yang tidak kita rencanakan biasanya akan datang dan kadang-kadang itu adalah solusi terbaik bagi permasalahan yang kita hadapi. Dengan berbuat kita memiliki pengalaman, dengan adanya pengalaman kita menjadi lebih matang, ketika kita terus menjadi matang maka kita akan menjadi ahli dalam bidang yang kita tekuni. Jadi setelah kita menentukan rencana dan tujuan segeralah LETS GO!, maka kita secara perlahan-lahan akan menjadi matang dan ahli dalam bidang kita.
Adapun dua fokus lagi yaitu fokus pada saat ini dan fokus pada yang terbaik dibahas di DI SINI.
KONSEP MANUSIA DALAM SEBUTAN INSAN DAN AN NAAS
Menurut Quraish Shihab dalam Wawasan al-Quran (2005:280) menyatakan bahwa kata Insan dan Naas berasal dari kata Uns yang berarti jinak, harmonis dan tampak. Kata Insan digunakan oleh al-Quran untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia berbeda dengan makhluk lain karena perbedaan fisik, mental dan kecerdasannya.
Untuk memulai bahasan ini mari kita simak surat at-Tiin ayat 1-8 berikut ini :
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1) وَطُورِ سِينِينَ (2) وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ (3) لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6) فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8)
1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,
2. Dan demi bukit Sinai,
3. Dan demi kota (Mekah) Ini yang aman,
4. Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
5. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
6. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
7. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
8. Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?
Surat ini diawali dengan sumpah Allah swt. Atas buah tiin dan zaitun, kemudian atas bukit Sinai dan kota Mekkah yang aman. Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan buah tiin dan zaitun adalah Baitul Muqoddas dimana nabi Isa diutus, kemudian bukit Sinai merupakan tempat diutusnya nabi Musa dan kota Mekkah merupakan tempat diutusnya Nabi Muhammad saw. Secara sepintas kita akan tahu bahwa Allah swt bersumpah atas tiga kota tempat Allah mengutus rasul-rasulnya yang memiliki syariat besar, yakni Nabi Isa membawa agama Nasrani, Nabi Musa membawa agama Yahudi dan Nabi Muhammad membawa agama Islam. Ketiga agama ini memiliki akar dan pondasi yang sama yakni mentauhidkan Allah swt, hanya dalam perkembangannya kedua agama pertama mengalami perubahan dari akarnya.
Melalui tiga sumpah tersebut Allah menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang paling baik. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk tubuhnya yang baik sehingga bisa berdiri tegak di atas dua kaki, setiap anggota tubuhnya bisa berfungsi secara optimal, dari mulai tangan yang bisa melakukan berbagai aktivitas, kaki yang kuat, mata, telinga hidung dan kulit yang semuanya merupakan anugerah yang tak terkira dari Allah swt, dan satu lagi yang paling penting manusia dibekali oleh akal yang mampu menemukan Tuhannya, sehingga melalui akal ini manusia bisa mengungguli makhluk lain dalam berbagai aspek.
Setelah Allah memberikan kelebihan dan keunggulan kepada manusia mengalahkan makhluk lain, maka Allah akan mengembalikan manusia kepada derajat yang paling rendah, yakni mereka yang tidak bisa mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepada manusia. Syukur tidak cukup hanya dengan mengucapkan alhamdulillah tetapi syukur harus diwujudkan dalam bentuk amal bakti kepada Allah swt. Syukur bisa diartikan dengan memfungsikan nikmat-nikmat Allah sesuai dengan fungsinya yang diperintahkan Allah. Jika Allah memberikan mata maka bentuk syukur atas mata adalah dengan menggunakan mata untuk berbakti kepada Allah seperti belajar, membaca al-Quran dan lain-lain, jika Allah memberikan akal maka bentuk syukur atas akal adalah dengan menggunakan akal kita untuk berbakti kepada Allah, begitu juga nikmat-nikmat yang lain. Allah telah berjanji jika kita bersyukur maka Allah akan menambah nikmat kita dan jika kita kufur atas nikmat maka tunggulah adzab Allah akan menimpa kita, karena itu Allah berfirma “Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”.
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shaleh maka mereka akan mendapatkan pahala yang tidak terputus yaitu surga. Orang-orang ini adalah orang yang tahu akan pentingnya bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepada mereka.
Pada ayat 7 Allah bertanya : “Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?”. Kata ad-Diin pada ayat ini bisa berarti agama bisa juga berarti hari pembalasan atau hari kiamat yang di dalamnya ada hari kebangkitan, karena membohongkan kedua hal di atas sama-sama akan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka.
Dalam menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir mengatakan, wahai manusia kenapakah kalian membohongkan hari kebangkitan sementara kalian tahu bahwa dahulu sebelum kalian lahir tidak sulit bagi Allah untuk menciptakan kalian dari tidak ada menjadi ada, lalu bagaimana mungkin kalian tidak percaya bahwa kalian akan dibangkitkan padahal kalian sebelumnya pernah ada, dalam kata lain Allah mampu untuk menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada, apalagi membangkitkan kembali manusia yang pernah ada sebelumnya.
Pada ayat terakhir Allah berfirman : ”Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?” memberikan isyarat bahwa Allah akan mengadili manusia kelak setelah hari kebangkitan, sekecil apapun amal baik kita maka akan kita lihat balasannya dan sekecil apapun amal buruk kita maka akan kita lihat balasannya. Lalu apakah kita rela mendapat balasan yang buruk pada hari kebangkitan ? Naudzubillah.
Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa Allah menciptakan manusia dalam keadaan sempurna baik secara fisik maupun psikis, semua itu hendaknya digunakan oleh manusia untuk mengikuti agama Allah sebagaimana Allah telah bersumpah dengannya. Diantara ajaran agama tersebut adalah beriman kepada hari akhir dan beramal shaleh sesuai tuntunan agama. Jika kita tidak mengikuti ajaran agama maka Allah akan menyampakkan manusia kepada derajat yang paling rendah dan jika kita mengikuti ajaran agama maka Allah akan memberikan pahala yang tak terputus. Itulah keputusan Allah yang sangat adil bagi manusia. Wallahu a’lam.
KONSEP MANUSIA DALAM SEBUTAN BASYAR
Basyar adalah nama lain dari manusia. Basyar secara bahasa artinya kulit. Timbul pertanyaan kenapa Allah memberi nama manusia dengan Basyar ? Jika kita pikirkan lebih dalam, perbedaan manusia dengan makhluk lain adalah pada kulitnya, jika makhluk selain manusia hampir seluruh tubuhnya tertutupi oleh bulu, maka kulitnya tidak terlihat, sedang manusia, tubuhnya tidak tertutupi oleh bulu, sehingga kulitnya terlihat, karena manusia itu makhluk yang terlihat kulitnya maka Allah menamai manusia dengan basyar. Tetapi bukan masalah itu yang jadi perhatian kita, yang menjadi perhatian kita adalah bagaimana konsep manusia menurut al-Quran dalam sebutan Basyar.
Dalam al-Quran kata basyar diantaranya terdapat pada surat al Kahfi ayat 110 :
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (110)
110. Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".
Ayat di atas diturunkan oleh Allah sebagai bantahan terhadap golongan yang bertanya kepada Nabi Muhammad tentang Ashabul Kahfi, Dzul Qornain dan Ruh. Kemudian Nabi menjawab dua pertanyaan pertama, dan menyerahkan masalah ruh kepada Allah. Karena itulah ayat ini diawali dengan kata perintah Qul! yang artinya katakanlah !. Katakanlah kepada orang-orang musyrik yang mendustakan kerasulanmu bahwa sesungguhnya aku ini adalah manusia biasa seperti kamu, barang siapa menyangka bahwa aku ini berbohong, ceritakanlah kepadaku tentang apa yang telah aku ceritakan kepadamu. Sesungguhnya aku tidak akan mengetahui hal-hal gaib (Ashabul Kahfi dan Dzul Qornain) sebagaimana yang aku ceritakan kepadamu sebelumnya, seandainya saja Allah tidak memperlihatkan hal tersebut kepadaku. Karena itulah aku kabarkan kepadamu bahwa “Sesungguhnya Tuhanmu adalah tuhan yang satu, tidak ada sekutu baginya. Barang siapa yang menginginkan untuk bertemu dengan Allah, atau pahala dari Allah (surga), maka hendaklah ia beramal shaleh yang sesuai dengan syariat Islam dan jangan menyekutukan Allah dalam beribadah kepadanya”.
Memperhatikan referensi ayat di atas, kita akan mengetahui bahwa Nabi Muhammad secara fisik sama dengan orang-orang kafir, tetapi dalam masalah keimanan keduanya berbeda, karena itulah Allah menggunakan istilah basyar untuk mempersamakan Nabi Muhammad dengan orang-orang kafir, karena istilah basyar itu lebih cenderung kepada pengertian fisik sebagaimana basyar itu sendiri yang artinya kulit dan kulit itu merupakan bagian dari tubuh manusia yang bersifat fisik karena dapat diketui oleh panca indera. Seandainya saja Allah menggunakan istilah lain selain basyar tentu tidak sesuai lagi dengan konteks dan itu tidak akan terjadi karena al-Quran merupakan kitab suci dengan tingkat balaghah yang tinggi.
Sifat manusia dalam sebutan basyar hanya meliputi hal-hal fisik saja, tidak mencakup pada hal-hal non fisik seperti keimanan kepada Allah. Sifat-sifat tersebut seperti suka makan, suka minum, menikah, bergaul dengan isteri, sakit, memiliki anak, dan sifat-sifat lain yang ada pada diri manusia pada umumnya. Hanya saja Allah memberikan wahyu kepada Nabi Muhammad sehingga beliau terlihat unggul dibanding manusia pada umumnya sehingga orang-orang kafir pada saat itu menganggap Nabi Muhammad lebih dari sekedar manusia biasa, bahkan ada yang menyebutnya sebagai ahli sihir dan ayat ini merupakan bantahan bagi mereka.
Selain menjelaskan tentang konsep manusia dalam sebutan basyar ayat di atas juga menjelaskan tentang syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang memiliki keinginan untuk bertemu dengan Allah. Pertemuan dengan Allah merupakan hal yang mungkin, tetapi kemungkinan terjadinya di dunia bagi yang bukan nabi dan rasul adalah sangat kecil. Pertemuan dengan Allah hanya di alami oleh seorang manusia sempurna yaitu Nabi Muhammad saw pada saat isra mi’raj. Adapun pertemuan dengan Allah di surga adalah hal yang bisa terjadi, sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran surat al-Qiyamah [75] ayat 22-23 :
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (23)
(22) Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. (23) Kepada Tuhannyalah mereka Melihat. (QS. al-Qiyamah [75] ayat 22-23).
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yarju liqa’a rabbih bukan hanya harapan melihat Allah tetapi termasuk di dalamnya adalah harapan untuk mendapatkan pahala dan balasan yang baik dari Allah yakni surga. Hal ini bisa dimengerti karena bagaimana mungkin seseorang bisa melihat Allah sementara ia tidak mendapatkan pahala dan balasan yang baik dari Allah dalam kata lain dia masuk neraka, tentu dia telah menyalahi surat al-Qiyamah ayat 22-23 di atas, karenanya dia tidak akan bisa melihat Allah. Alasan lain adalah bahwa melihat Allah merupakan pahala yang paling besar di antara pahala yang besar (surga) sebagaimana hal tersebut dijelaskan dalam hadits, jadi secara logika tidak mungkin orang yang tidak masuk surga bisa melihat Allah karena melihat Allah merupakan pahala bagi orang-orang yang masuk surga, jadi bagaimana mungkin Allah memberikan pahala/balasan yang baik kepada orang yang masuk neraka.
Adapun syarat tersebut adalah :
1. Hendaklah ia melakukan amal shaleh sesuai dengan syariat Allah swt. Di sini ada dua domain yang harus diperhatikan, yakni melakukan amal shaleh dan sesuai dengan syariat. Oleh karena itu sebelum kita melakukan amal shaleh hendaknya kita mengkaji dulu ilmu-ilmu yang menjelaskan tentang amal shaleh tersebut, jika tidak maka setiap amal yang tidak berdasar kepada ilmu itu adalah ditolak tidak diterima. Hal ini cukup jelas karena amal yang tidak didasarkan kepada ilmunya tentu saja amal tersebut besar kemungkinan jauh melenceng dari tatacara yang disyariatkan, andaipun amal itu sama dengan yang disyariatkan maka orang tersebut melakukannya bukan sebagai kesengajaan tetapi sebuah kebetulan saja, sedang hadits Umar bin Khatab mengatakan bahwa ”sesungguhnya jadinya amal itu adalah berdasarkan niat”, itu artinya amal itu harus dilakukan dengan niat dan niat itu sendiri menunjukkan bahwa dia melakukannya atas dasar kesengajaan bukan kebetulan, dengan demikian amal yang dilakukan secara kebetulan dan tidak memiliki unsur kesengajaan maka itu tidak diterima.
2. Hendaklah ia melakukan amal (ibadahnya) hanya karena Allah swt, dan tidak menyekutukannya dengan apapun. Ini memberi isyarat bahwa amal yang kita lakukan hendaknya dilakukan dengan ikhlas, hanya mengharap ridla Allah swt, bukan ridla yang lain termasuk ingin dipuji oleh orang lain (riya, syirik khofi).
Ayat ini memiliki korelasi yang kuat dengan surat al-Bayyinah [98] ayat 5 :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (5)
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus (QS. al-Bayyinah [98] ayat 5).
Memurnikan ketaatan adalah ikhlas dan menjalankan agama yang lurus adalah beribadah sesuai dengan syariat Allah. Jika kedua syarat ini dilakukan maka manusia akan mendapat pahala yang besar dari Allah, diantara pahala tersebut adalah bisa melihat Allah di surga. Wallahu a’lam.
Untuk menyelesaikan serial ayat tentang manusia maka pada posting selanjutnya akan membahas tentang Konsep Manusia dalam sebutan an-Naas dan sebutan Insan.
TATAKRAMA SISWA DI SEKOLAH (Materi Bimbingan Konseling)
KENAPA MANUSIA DISEBUT BANI ADAM ?
Setelah pada posting yang lalu kita menggali tentang Benarkah Adam Diciptakan dari Tanah ? pada posting kali ini, kita akan mencoba membahas tentang konsep manusia sebagai Bani Adam.
Jika kita perhatikan pertanyaan di atas, maka jawaban yang paling dekat dari pertanyaan tersebut adalah karena manusia itu pada hakikatnya adalah turunan dari manusia pertama yang bernama Adam, karena itulah disebut Bani Adam (Keturunan Adam). Jawaban ini tentu tidak salah, tetapi ada rahasia yang sangat agung kenapa Allah menyebut manusia sebagai Bani Adam. Allah swt. berfirman dalam al Quran surat al Isra ayat 70 :
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا (70)
70. Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan. (QS. Al Isra [17]:70)
Jika kita simak, kenapa Allah tidak menyebutkan nama lain dari manusia seperti, insan, basyar atau an-Naas, tetapi Allah menggunakan istilah Bani Adam ? tentu ada rahasia besar yang terkandung dalam istilah Bani Adam.
Al Quran merupakan kalam yang agung, karena itu pemilihan katanya pun sangat selektif dan tentu saja sangat sesuai dengan tuntutan alur kalam. Pada ayat di atas Allah secara tegas mengatakan bahwa Dia memuliakan anak-anak Adam dengan memberi mereka akal, bisa berbicara, bisa menulis, bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, bentuk tubuh yang baik, bisa berdiri tegak serta bisa mengatur kehidupan, baik sekarang di dunia maupun untuk nanti di akhirat.
Menurut Ibnu Katsir, Allah memuliakan manusia dengan bisa berjalan tegak di atas kedua kakinya, bisa mengambil makanan dengan kedua tangannya, sedangkan makhluk yang lain tidak bisa melakukan dua hal tersebut secara bersamaan, mereka berjalan dengan keempat kakinya dan mengambil makanan dengan mulunya. Manusia juga dimuliakan oleh Allah dengan memberi mereka pendengaran, penglihatan dan hati, dimana ketiganya merupakan modal yang berharga untuk memahami segala hal, kemudian mengambil manfaat dari hal tersebut. Selain itu tiga alat ini merupakan modal dalam membedakan segala sesuatu, mengetahui manfaatnya, mengetahui keistimewaan serta kemudaratannya, baik untuk urusan dunia maupun akhirat.
Selain keistimewaan di atas, Allah juga menaklukan berbagai binatang, sehingga bisa dijadikan tunggangan oleh manusia, dan manusia bisa melakukan perjalanan di daratan dunia ini dengan mudah. Kemudian Allah juga menaklukan semua makhluk yang ada di dunia, baik benda hidup maupun benda mati, sehingga manusia dapat mengarungi lautan dengan perahu yang dibuatnya, kemudian Allah memberikan rizki yang halal sekaligus bergizi kepada manusia, baik berupa makana pokok, buah-buahan, daging, susu dan lain-lain. Selain itu Allah memberikan rizki dalam bentuk lain, seperti warna-warna yang cerah dan menarik, hal ini dapat kita lihat pada pemandangan yang indah, pakaian yang bagus dan lain-lain.
Kemudian Allah menjadikan Bani Adam bisa mengungguli makhluk-makhluk yang lain dalam berbagai hal, walaupun makhluk itu ukurannya lebih besar dari manusia, bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa ayat ini merupakan dalil bahwa manusia itu lebih mulia dari malaikat.
Dari uraian di atas, kita dapat menangkap bahwa kenapa Allah menggunakan istilah Bani Adam, karena pada ayat ini Allah akan menjelaskan bagaimana manusia itu lebih unggul dibanding makhluk manapun, oleh karena itu penggunaan istilah Bani Adam dapat mempertegas bagaimana unggulnya manusia dibanding dengan makhluk lain, seperti unggulnya Nabi Adam dibanding malaikat, dimana malaikat pernah diperintah oleh Allah untuk memberi penghormatan kepada Adam. Dengan demikian maka konsep manusia sebagai bani Adam adalah bahwa manusia itu memiliki banyak keunggulan dibanding makhluk yang lain, sehingga makhluk yang lain tunduk kepada manusia dan dipersiapkan untuk kemaslahatan manusia sebagai predikat khalifah dimuka bumi ini. Wallahu A'lam.
Pada tulisan selanjutnya kita akan membahas bagaimana konsep manusia sebagai Basyar, Insan dan An-Naas. Tidak sabar ingin membacanya ? silahkan klik linknya.
Referensi : Tafsir Ibnu Katsir.

