BENARKAH ADAM DICIPTAKAN DARI TANAH ?

Setelah pada posting yang lalu saya mencoba menguraikan tentang Bagaimana
Shalat Tarawih itu ?
, pada posting ini saya akan mencoba untuk menguraikan jawaban dari pertanyaan pada judul di atas. Selama ini kita mendapat informasi dari guru atau orang tua kita bahwa Nabi Adam itu diciptakan dari tanah, benarkah kenyataannya demikian ?

Quran surat Al Mu'minun ayat 12-14 menjawab permasalahan ini dengan jelas sebagaimana berikut ini berikut ini :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا
فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (14)


 

(12) Dan Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (13) Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). (14) Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (QS. Al Mu'minun[23]:12-14)

Menurut Ibnu Katsir, yang dimaksud dengan kata insan pada ayat di atas adalah Adam, dengan demikian ayat di atas menjelaskan tentang penciptaan Adam, yaitu beliau diciptakan dari saripati tanah. Dari sini kita tahu bahwa Adam bukan diciptakan dari tanah itu sendiri tetapi Adam diciptakan dari saripati tanah atau dengan kata lain inti dari tanah itu sendiri. Kemudian saripati tanah itu disimpan di tempat yang kokoh lagi terjaga selama 40 hari, kemudian pada usia 80 hari saripati itu berkembang atas izin Allah menjadi segumpal darah, kemudian pada usia 120 hari gumpalan darah itu berubah menjadi segumpal daging. Kemudian Allah menciptakan tulang belulang dalam daging tersebut, kemudian tulang-tulang itu diliputi oleh daging dan tebentuklah suatu makhluk yang lain dari asalnya.

Kenapa Allah mengatakan makhluk yang sudah bertulang ini sebagai makhluk yang lain (khalqan akhar) ? Sebagaimana pada hadits Ibnu Mas'ud bahwa pada usia janin 120 hari (4 bulan) Allah mengutus malaikat untuk meniupkanlah ruh kepada janin tersebut, maka hiduplah janin tersebut, kemudian ditentukan empat hal bagi janin tersebut yakni, kapan ajalnya, bagaimana amalnya, bagaimana rizkinya serta apakah dia akan bahagia atau celaka. Keadaan janin setelah mendapat kunjungan malaikat ini, jelas beda dengan keadaan janin sebelum datangnya malaikat, karena sebelum dikunjungi malaikat, janin ini merupakan benda mati tanpa ruh, tetapi setelah datang malaikat, maka dia merupakan benda hidup yang memiliki ruh. Itulah kenapa Allah menyebutnya sebagai makhluk yang lain.

Bagaimana dengan manusia lain selain Adam, apakah sama prosesnya ?. Jelas sekali bahwa ayat ini tidak hanya berlaku bagi Adam tetapi juga manusia yang lain, dan proses penciptaan manusia ini berlaku untuk semua manusia, yang membedakan adalah Adam langsung dari saripati tanah, sedang manusia yang lain berasal dari saripati tanah yang terserap dalam tumbuhan dan buah-buahan, kemudian tumbuhan dan buah-buahan tersebut dimakan oleh ayah dan ibu, kemudian diserap oleh tubuh dan berubah menjadi sperma yang berada diantara tulang punggung dan tulang dada, kemudian terjadilah pembuahan yang menyebabkan dimulainya proses penciptaan manusia sebagaimana dijelaskan di atas.

Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluknya dengan bentuk yang paling sempurna ini, sehingga sangat layak dan pantas disebut sebagai Pencipta yang paling baik, karena Allah menciptakan semua makhluk tanpa ada contoh dari siapapun, karena Dia Sang Khalik dan selainnya adalah makhluk.

Pada posting selanjutnya, saya akan mencoba menjelaskan, kenapa manusia disebut Bani Adam, Basyar, Insan dan An-Naas. Untuk itu ikuti terus serial ayat-ayat tentang manusia ini.

Referensi : Tafsir Ibnu Katsir.

BAGAIMANA SHALAT TARAWIH ITU ?


  1. Pendahuluan
    Shalat tarawih merupakan shalat yang selalu kita kerjakan ketika masuk dalam bulan Ramadlan, namun dalam pelaksanaannya di masyarakat ada beberapa perbedaan antara masyarakat yang satu dengan yang lain, baik dalam jumlah rakaatnya, tata caranya, waktunya dan lain-lain yang berhungan dengan shalat tarawih.
    Untuk itulah pada tulisan ini, kami akan membahas beberapa ketentuan tentang shalat tarawih yang didasarkan kepada hadits-hadits yang kuat. Selamat menikmati.
  2. Hukum Shalat Tarawih
    Shalat tarawih hukumnya adalah sunat. Hal ini berdasarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh beberapa imam hadits, salah satunya adalah Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari, berikut petikan haditsnya :
1271 - و حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ يَتَحَدَّثُونَ بِذَلِكَ فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةِ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ يَذْكُرُونَ ذَلِكَ فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَفِقَ رِجَالٌ مِنْهُمْ يَقُولُونَ الصَّلَاةَ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ ثُمَّ تَشَهَّدَ فَقَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ شَأْنُكُمْ اللَّيْلَةَ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ صَلَاةُ اللَّيْلِ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا (صحيح مسلم – كتاب صلاة المسافرين وقصرها)
Artinya : ... A'isyah mengatakan kepada 'Urwah bin Zubair, bahwa Rasulullah saw keluar pada tengah malam, kemudian melaksanakan shalat di mesjid, maka shalatlah beberapa orang laki-laki dengan shalat Rasulullah (berjama'ah), maka orang-orang membicarakan tentang shalat pada waktu malam itu. Maka (pada malam kedua) berkumpullah manusia yang jumlahnya lebih banyak dari orang pada hari pertama. Kemudian Rasulullah keluar dari rumahnya pada malam kedua dan mereka shalat bersama Rasulullah. Orang-orang pun membicarakan shalat pada hari kedua ini, maka pada malam ketiga ahli mesjid berkumpul sangat banyak, kemudian Rasulullah keluar dan shalat bersama mereka. Ketika datang malam yang keempat, mesjid sangat penuh sekali dengan kaum muslimin, maka Rasulullah tidak keluar dari rumahnya, hampir saja beberapa laki-laki dari jamaah berkata, "Sholat, sholat", tetapi Rasullah tidak keluar sehingga datang waktu subuh, maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat subuh. Setelah selesai shalat subuh rasulullah menghadap kepada jamaah, kemudian membaca syahadat, dan berkata : Tidak samar bagiku tentang sikap kalian pada malam ini, tetapi aku takut shalat malam akan difardlukan atas kalian dan kalian tidak bisa melaksanakannya. (HR. Bukhari).

 
Hadits di atas secara eksplisit mengandung beberapa hukum :
  1. Shalat tarawih dilakukan tengah malam (jaufil lail);
  2. Shalat tarawih boleh dilakukan dengan berjamaah atau munfarid;
  3. Shalat tarawih boleh dilakukan di mesjid ataupun di rumah;
  4. Shalat tarawih hukumnya adalah sunat;
  5. Shalat tarawih adalah shalat malam di bulan Ramadhan.
Dengan demikian jelaslah beberapa ketentuan tentang shalat tarawih seperti di atas. Timbul pertanyaan apakah shalat tarawih yang dilaksanakan setelah shalat Isya ada dasarnya dalam hadits ?
  1. Waktu Shalat Tarawih
    Pertanyaan di atas akan dijawab langsung oleh Imam Malik dalam kitab Muwaththo, berikut petikan haditsnya :
231 - حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَانِي لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ فَقَالَ عُمَرُ نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي تَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي تَقُومُونَ يَعْنِي آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ (موطأ مالك – كتاب النداء للصلاة)
Artinya : ... dari Abdurrahman bin Abdil Qori, dia berkata, "Aku keluar bersama Umar bin Khaththab pada bulan Ramadlan menuju ke mesjid, pada waktu itu orang-orang terpencar menjadi beberapa kelompok, ada yang shalat munfarid, ada yang shalat berjamaah dengan beberapa orang, maka Umar berkata, "Demi Allah, menurutku seaindainya aku mengumpulkan mereka pada satu ahli baca al-Quran (sebagai imam), tentu itu lebih mirip (dengan pada masa Rasulullah)", maka Umar mengumpulkan mereka kepada Ubay bin Kaab sebagai imamnya". Abdurrahman bin Abdil Qori berkata, "Kemudian aku keluar bersama Umar pada malam yang lain, dan orang-orang shalat dengan shalat imamnya (berjamaah), maka Umar berkata, "Indah sekali bid'ah ini" dan shalat yang kamu lakukan setelah tidur lebih utama daripada shalat yang kamu lakukan (sekarang)". Maksud Umar akhir malam, dan orang-orang melakukannya pada awal malam.
Hadits di atas menunjukkan beberapa hukum :
  1. Bahwa shalat tarawih lebih baik diberjamaahkan pada satu imam saja daripada jamaah terpencar shalat sendiri-sendiri atau ada beberapa imam dengan jamaah yang sedikit sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw.
  2. Waktu shalat tarawih terbagi menjadi dua, yakni setelah shalat Isya sebagaimana yang dilakukan oleh kaum muslimin pada masa Umar bin Khattab dan pada dini hari sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah, dan shalat tarawih yang dilakukan pada dini hari lebih utama daripada setelah shalat Isya.
  3. Shalat tarawih yang dilakukan setelah shalat Isya ditetapkan oleh Ijma. Karena pada saat kaum muslimin melakukan shalat tarawih setelah shalat Isya, tidak ada seorang shahabat pun yang membantahnya, dengan demikian diamnya para shahabat, termasuk Umar bin Khattab, merupakan persetujuan terhadap apa yang dilakukan kaum muslimin saat itu (ijma sukuti).
  1. Jumlah Rakaat Shalat Tarawih
    Setelah mengetahui bagaimana waktu dan hukum shalat tarawih, kita tentu saja ingin mengetahui berapakah jumlah rakaat tarawih yang boleh dilaksanakan ? Langsung saja kita simak hadits berikut ini :
233 - حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً (موطأ مالك – كتاب النداء للصلاة)
Artinya : ... dari Yazid bin Ruman, dia berkata, "Orang-orang pada zaman Umar bin Khattab melakukan shalat Qiyamu Ramadlan sebanyak 23 rakaat".
Hadits di atas menjelaskan bahwa shalat tarawih yang dilaksanakan pada waktu itu adalah 23 rakaat, terdiri dari 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir.
Adapun shalat tarawih yang rakaatnya 11 rakaat berdasarkan kepada hadits berikut ini
232 - و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يُوسُفَ عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّهُ قَالَ أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي فُرُوعِ الْفَجْرِ (موطأ مالك – كتاب النداء للصلاة)
Artinya : ... dari Saib bin Yazid, beliau berkata, "Umar bin Khattab memerintahkan Ubay bin Kaab dan Tamim ad-Dari untuk shalat bersama orang-orang sebanyak sebelas rakaat, dan imam membaca surat yang berjumlah kurang lebih 100 ayat, sehingga kami berpegang pada tongkat dikarenakan lamanya berdiri, dan kami tidak selesai kecuali pada waktu fajar.
Hadits di atas menjelaskan bahwa shalat tarawih yang dilakukan pada masa Umar bin Khattab adalah sebelas rakaat, yaitu delapan rakaat shalat tarawih, dan tiga rakaat shalat witir. Dengan demikian jumlahnya menjadi sebelas rakaat.
Dari dua hadits ini, shalat tarawih bisa dilakukan 11 rakaat dan 23 rakaat. Keduanya memiliki dasar untuk dilaksanakan.
  1. Tata Cara Shalat Tarawih ?
    Tidak kalah penting dari ketentuan-ketentuan di atas adalah mengetahui bagaimana kaifiyat atau tatacara dalam melaksanakan shalat tarawih, apakah dua rakaat-dua rakaat atau empat rakaat-empat rakaat ? berikut petikan haditsnya :
1874 - حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي (صحيح البخاري – كتاب الصلاة التراويح)
Artinya : ... dari Abi Salamah bin Abdirrohman bahwa dia bertanya kepada Aisyah ra., "Bagaimanakah tatacara shalat Rasulullah saw. pada bulan Ramadlan?" kemudian Aisyah menjawab :"Rasul tidak pernah menambah shalatnya, baik pada bulan Ramadlan ataupun bukan, lebih dari sebelas rakaat, Beliau shalat 4 rakaat dan jangan bertanya tentang bagus dan lamanya shalat Beliau, kemudian shalat 4 rakaat dan jangan bertanya tentang bagus dan lamanya shalat Beliau, kemudian shalat 3 rakaat. Kemudian aku berkata, Apakah Engkau tidur sebelum shalat witir, Beliau menjawab, Wahai Aisyah, sesungguhnya mataku tidur tetapi hatiku tidak tidur.
Hadits di atas jelas sekali bahwa shalat tarawih yang sebelas rakaat cara pelaksanaannya bisa dengan formasi 4-4-3, artinya 4 rakaat tarawih, 4 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir.
1284 - و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسِ بْنِ مَخْرَمَةَ أَخْبَرَهُ عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّهُ قَالَ لَأَرْمُقَنَّ صَلَاةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّيْلَةَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً (صحيح مسلم – كتاب صلاة المسافرين وقصرها)
Artinya : … dari Zaid bin Khalid Al Juhani, beliau berkata : "Sesungguhnya Aku pernah melihat shalat Rasulullah saw. pada waktu malam, Beliau shalat 2 rakaat yang ringan, kemudian shalat 2 rakaat yang lama sekali, kemudian shalat 2 rakaat dan lamanya di bawah dua rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dan lamanya di bawah dua rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dan lamanya di bawah dua rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dan lamanya di bawah dua rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dan lamanya di bawah dua rakaat sebelumnya, kemudian shalat witir. Itu adalah 13 rakaat.
Menurut hadits di atas, Rasululullah shalat 13 rakaat yang terdiri dari dua rakaat shalat fajar, delapan rakaat shalat malam yang dilakukan dua rakaat-dua rakaat dan diakhiri dengan tiga rakaat shalat witir yang dilakukan dengan dua kali salam, sehingga jumlahnya tiga belas rakaat.
Dengan demikian maka shalat tarawih bisa dilakukan dengan dua rakaat, dua rakaat.
  1. Apakah Shalat Tarawih = Shalat Malam ?
    Jika kita melihat hadits-hadits di atas, maka dapat kita pahami bahwa shalat tarawih adalah shalat malam yang dilakukan pada bulan Ramadhan. Artinya shalat malam di luar Ramadhan disebut qiyamu lail, dan shalat malam pada bulan Ramadlan disebut qiyamu ramadlan atau tarawih. Namun demikian pelaksanaan shalat malam – dalam hal ini tarawih – pada bulan Ramadhan bisa dilakukan setelah shalat Isya, hal ini berdasarkan ijma para shahabat, yang tidak melarang untuk shalat tarawih setelah shalat Isya pada zaman Umar bin Khattab, termasuk Umar sendiri yang mendapat gelar Al Faruq, yakni yang membedakan mana yang hak dan mana yang bathil.
    Selanjutnya, apakah setelah melakukan shalat tarawih, kita boleh melakukan shalat malam ? Jika kita memperhatikan hadits-hadits di atas maka sangat jelas bahwa Rasulullah tidak sempat lagi waktunya untuk melakukan shalat malam karena shalat tarawih sendiri dilakukan di tengah malam sampai fajar. Jika melihat analisis pada paragraf di atas bahwa shalat tarawih merupakan shalat malam pada bulan Ramadlan, maka orang yang sudah melaksanakan tarawih berarti sudah melaksanakan shalat malam. Karena itulah shalat malam sudah dilakukan, akan tetapi bagi orang yang hendak memperbanyak pahala pada bulan Ramadhan bisa dengan melakukan amal yang lain seperti membaca al-Quran, berdzikir, membaca shalawat atau melakukan shalat mutlak.
  2. Penutup
    Setelah kita memperhatikan uraian di atas maka kita melihat ada beberapa perbedaan dalam pelaksanaan shalat tarawih, dan perbedaan tersebut juga terjadi di masyarakat dalam pelaksanaan shalat tarawih. Melihat hal tersebut, maka kita sebagai kaum muslimin tidak perlu untuk mempermasalahkan perbedaan dalam pelaksanaan shalat tarawih, selama perbedaan tersebut berdasarakan kepada dalil-dalil yang shahih. Sikap yang paling tepat bagi kita adalah saling menghargai dan saling menghormati terhadap pendapat masing-masing, kemudian kita jalin tali silaturrahmi yang erat, bergandengan tangan, bersama melangkah menuju kemajuan umat Islam. Masih banyak tugas yang lebih berat dalam perjuangan Islam, daripada hanya sekedar mempermasalahkan furu'iyah yang memang ada dasarnya, lebih baik mari kita peras otak dan pikiran kita, bagaimana agar umat Islam bisa menemukan kembali masa keemasaannya dalam berbagai bidang, baik bidang agama, sains, social dan lain-lain, sehingga perbedaan ini tidak menjadi biang keladi perpecahan umat Islam tetapi menjadi pemersatu umat Islam. Amiin ya Rabbal Alamin. Wallahu A'lam.

     

     

     

 

Ada Apa dengan Aku

Entahlah, tiba-tiba saja aku ingin sekali menulis tentang diriku ini. Aku yang selalu merasa bebas untuk berbuat dosa, merasa bebas untuk bertindak dan berkata-kata, menggunjing, mencela dan menganggap orang lain buruk, dan menganggap diriku lebih baik dari siapapun. subhanallah, kenapa aku tidak sadar bahwa, ada Dzat yang selalu memperhatikan aku, yang mencatat seluruh amal aku, baik itu amal yang baik, ataupun amal yang buruk. Tidak pantas bagiku untuk melakukan dosa, karena itu berarti aku tidak bersyukur kepada Dzat yang telah memberi nikmat. Sungguh nista sekali, jika aku diberi sesuatu oleh orang lain, tetapi aku justru malah durhaka kepada orang tersebut. manusia macam apa aku ini ?

Aku juga tidak pantas untuk mengolok-olok orang lain, alasan apa yang menjadikan aku layak untuk melakukan itu. Tidak, tidak ada satupun. Hakikat kekuatan yang kita miliki adalah milik Allah, andaipun aku memiliki keunggulan, apakah orang lain tidak memiliki keunggulan ? tentu saja ada. Kalau orang lain memiliki keunggulan dalam satu hal dan kelemahan dalam hal lain, begitu juga dengan aku. Aku pasti punya kelemahan dalam satu hal. Jika aku memiliki kelemahan, kenapa aku harus mengolok-olok orang lain atas kelemahannya. Jika aku merasa berhak untuk mengolok-olok orang lain atas kelemahannya, berarti kita layak untuk mendapat olok-olok orang lain. Tapi apakah aku mau diolok-olok ? Tentu saja tidak, karena itu jangan mengolok-olok orang lain.

Satu hal lagi, yang sedikit membingungkan aku. Islam itu agama yang benar, dan tidak ada agama yang diakui oleh Allah selain Islam, para ilmuwanpun telah menyatakan kebenaran Islam melalui berbagai risetnya, tapi, kenapa aku sebagai orang Islam masih ragu atas hal tersebut. Apa buktinya, aku masih suka asal-asalan dalam melakukan tugasku sebagai seorang muslim. Apakah itu bukan tanda bahwa aku ragu terhadap Islamku sendiri. Yah Rabb, Kenapa aku menjadi seburuk ini ? ya Rabb, berikanlah kesempatan kepadaku untuk mengenalmu lebih dekat, dekat dan lebih dekat lagi. Aku tahu aku terlalu hina untuk bertemu dengan Engkau, tapi tak ada seorangpun yang bisa menghalangi-Mu jika Engkau berkehendak.

Entahlah rasanya diriku semakin hari semakin buruk, aku selalu lupa terhadapmu, sering marah-marah karena tidak sadar akan kasih sayang dan takdirmu, sering malas karena tak sadar akan perintahmu untuk selalu berjuang, selalu mengeluh seolah tidak bersyukur atas nikmat-Mu. Ya Rabb. Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka itu adalah anugerah. Jika Engkau murka kepadaku, aku yakin Engkau Maha Penyayang dan Maha Pengampun, karena itu pada saat ini kuucapkan sejuta permintaan maaf kepada-Mu atas tindakanku yang melampaui batas aturan-Mu, semoga Engkau membukakan hatiku untuk lebih dalam mengenal-Mu, sehingga aku menjadi kekasih-Mu yang senantiasa mendapat ridlo-Mu. Amiin ya rabbal 'Alamin.

Pentingnya Akhlak dalam Kehidupan Manusia

Akhlak merupakan garis pemisah antara yang berakhlak dengan orang yang tidak berakhlak. Akhlak juga merupakan roh Islam yang mana agama tanpa akhlak samalah seperti jasad yang tidak bernyawa.karena salah satu misi yang dibawa oleh Rasulullah saw ialah membina kembali akhlak manusia yang telah runtuh sejak zaman para nabi yang terdahulu mulai pada jaman penyembahan berhala oleh pengikutnya yang telah menyeleweng.
Hal ini juga berlaku pada zaman jahilliyyah dimana akhlak manusia telah runtuh,perangai umat yang terdahulu dengan tradisi meminum arak, membuang anak, membunuh, melakukan kezaliman sesuka hati, menindas, suka menjolimi kaum yang rendah martabatnya dan sebagainya. Dengan itu mereka sebenarnya tidak berakhlak dan tidak ada bedanya dengan manusia yang tidak beragama.
Akhlak juga merupakan nilai yang menjamin keselamatan kita dari siksa api neraka. Islam menganggap mereka yang tidak berakhlak tempatnya di dalam neraka. Umpamanya seseorang itu melakukan maksiat, durhaka kepada kedua orang tuanya, melakukan kezhaliman dan sebagainya, sudah pasti Allah akan menolak mereka untuk dijadikan ahli syurga.
Selain itu, akhlak juga merupakan ciri-ciri kelebihan di antara manusia karena akhlak merupakan lambang kesempurnaan iman, ketinggian taqwa dan kealiman seseorang manusia yang berakal. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda yang bermaksud : “Orang yang sempurna imannya ialah mereka yang paling baik akhlaknya.”
Kekalnya suatu ummah juga karena kokohnya akhlak dan begitulah juga runtuhnya suatu ummah itukarena lemahnya akhlaknya. Hakikat kenyataan di atas dijelaskan dalam kisah-kisah sejarah dan tamadun manusia melalui al-Quran seperti kisah kaum Lut, Samud, kaum nabi Ibrahim, Bani Israel dan lain-lain. Ummah yang berakhlak tinggi dan sentiasa berada di bawah keridhoan dan perlindungan Allah ialah ummah yang seperti pada zaman Rasulullah saw.
Tidak adanya akhlak yang baik pada diri individu atau masyarakat akan menyebabkan manusia krisis akan nilai diri, keruntuhan rumah tangga, yang tentunya hal seperti ini dapat membawa kehancuran dari suatu negara. Presiden Perancis ketika memerintah Perancis dulu pernah berkata : “Kekalahan Perancis di tangan tantara Jerman disebabkan karena tentaranya runtuh moral dan akhlak”
Pencerminan diri seseorang juga sering digambarkan melalui tingkah laku atau akhlak yang ditunjukkan.

Malahan,akhlak merupakan perhiasan diri bagi seseorang karena orang yang berakhlak jika dibandingkan dengan orang yang tidak berakhlak tentu sangat jauh perbedaannya.Akhlak tidak dapat dibeli atau dinilai dengan suatu mata uang apapun,akhlak merupakan wujud di dalam diri seseorang yang merupakan hasil didikan dari kedua orang tua serta pengaruh dari masyarakat sekeliling mereka. Jika sejak kecil kita kenalkan,didik serta diarahkan pada akhlak yang mulia, maka secara tidak langsung akan mempengaruhi tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari hingga seterusnya.
Proses pembentukan sebuah masyarakat adalah sama seperti membina sebuah bangunan. Kalau dalam pembinaan bangunan, asasnya disiapkan terlebih dahulu, begitu juga dengan membentuk masyarakat mesti di mulai dengan pembinaan asasnya terlebih dahulu. Jika kukuh asas yang dibina maka tegaklah masyarakat itu. Jika lemah maka robohlah apa-apa yang telah dibina diatasnya.
Akhlak tentu amat penting karena merupakan asas yang dilakukan oleh Rasulullah saw ketika memulai pembentukan masyarakat Islam. Sheikh Mohamad Abu Zahrah dalam kitabnya Tanzim al-Islam Li al-Mujtama’ menyatakan bahawa budi pekerti atau moral yang mulia adalah satu-satunya asas yang paling kuat untuk melahirkan manusia yang berhati bersih, ikhlas dalam hidup, amanah dalam tugas, cinta kepada kebaikan dan benci kepada kejahatan.
sungguh akhlak itu sangat penting artinya dalam kehidupan bermasyarakat.dapat dibayangkan sperti apa jadinya bila suatu masyarakat tidak di bangun dengan asas akhlak yang mulia?sungguh akan terjadi suatu kehancuran pada masyarakat itu.
Sumber : http://komukblangsak.wordpress.com/2010/12/03/pentingnya-akhlak-dalam-kehidupan-manusia/

Kriteria Test yang Baik

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

    Test merupakan salah satu alat ukur keberhasilan suatu proses pembelajaran dan proses pendidikan. Dalam posisinya sebagai alat ukur keberhasilan, maka test harus disusun sedemikian rupa sehingga benar-benar mencerminkan kualitas dari suatu pembelajaran dan pendidikan.

    Mahasiswa tarbiyah merupakan calon guru di masa yang akan datang. Kiprahnya sebagai guru kelak harus menunjukkan sebagai guru yang profesional dan dapat diandalkan. Diantara kompetensi yang harus dikuasai oleh guru adalah bagaimana seorang guru menyusun soal test dan mengukur sejauh mana efektivitas test tersebut digunakan untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran dan proses pendidikan.

    Berdasarkan paparan di atas maka penulis tertarik untuk menjabarkan tentang bagaimana cara menyusun test yang baik yang meliputi bagaimana mengukur ketepatan pada sasaran suatu test(valid), keajegan dan konsistensi, daya pembeda dan tingkat kesukaran suatu test, karena itu penulis mengambil judul makalah "Kriteria Test yang Baik".

  2. Tujuan

    Penguasaan terhadap materi-materi yang berhubungan dengan proses pembelajaran merupakan hal mutlak yang harus dilakukan oleh mahasiswa tarbiyah, karena itu penulisan makalah ini didasarkan kepada tujuan-tujuan berikut ini :

    1. Untuk memperdalam penguasaan materi penulis tentang evaluasai pembelajaran khususnya yang berhubungan dengan kriteria test yang baik.
    2. Menjelaskan tentang validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran suatu test dan bagaimana cara mengukurnya.
    3. Menjelaskan interpretasi dari setiap skala pengukuran.
    4. Menambah pengalaman penulis dalam menentukan validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran suatu test melalui praktek yang dibimbing langsung oleh dosen.
    5. Untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran.


 

BAB II

PEMBAHASAN

Sebuah tes dikatakan sebagai test yang baik jika memenuhi kriteria di bawah ini :

  1. Kesahihan/ Validitas

    Suatu instrumen evaluasi dikatakan valid jika instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur. Jadi jika test tersebut adalah test pencapaian hasil belajar maka hasil test tersebut apabila diinterpretasikan secara intensif, hasil yang dicapai memang benar menunjukkan ranah evaluasi pencapaian hasil belajar.

    Sebelum soal test ini dipakai harus diuji coba dahulu, selanjutnya dilakukan pengujian validitas yang terdiri dari :

    1. Validitas isi atau kontruk. Validitas ini dilakukan bertujuan untuk menentukan kesesuaian antara soal dengan materi ajar dan dengan tujuan yang ingin diukur atau dengan kisi-kisi yang kita buat. Validitas ini dilakukan dengan meminta pertimbangan dari para ahli (pakar) dalam bidang evaluasi atau ahli dalam bidang yang sedang diuji.
    2. Validitas prediksi, validitas ini dimaksudkan agar hasil test mampu memprediksi keberhasilan peserta didik di kemudian hari, misalnya ujian masuk atau test seleksi.
    3. Validitas empiris (kriterium), validitas ini bertujuan untuk menentukan tingkat kehandalan soal. Dalam penentuan tingkat validitas butir soal digunakan korelasi product moment Pearson dengan mengkorelasikan antara skor yang didapat siswa pada suatu butir soal dengan skor total yang didapat. Rumus yang digunakan :


       


       

    Keterangan :

    rxy = Koefisien korelasi antara variable X dan variable Y

    N = Banyaknya peserta test

    X = Nilai hasil uji coba

    Y = Nilai rata-rata harian (Ruseffendi, 1991)

    Interprestasi terhadap nilai koefisien korelasi
    rxy digunakan kriteria Nurgana (Ruseffendi, 1994:144) berikut ini :

    0,8 <
    rxy ≤ 1,0 : sangat tinggi

    0,6 <
    rxy ≤ 0,8 : tinggi

    0,4 <
    rxy ≤ 0,6 : cukup

    0,2 <
    rxy ≤ 0,4 : rendah

    rxy ≤ 0,2 : sangat rendah


     

    Banyak faktor yang mempengaruhi validitas sebuah test, diantaranya :

    1. Faktor dari dalam test :
      1. Arahan test yang disusun dengan makna tidak jelas sehingga dapat mengurangi validitas test.
      2. Kata-kata yang digunakan dalam struktur instrumen evaluasi terlalu sulit.
      3. Item-item test dikonstruksikan dengan jelek.
      4. Tingkat kesulitan test tidak tepat dengan materi pembelajaran yang diterima siswa.
      5. Waktu yang dialokasikan tidak tepat, hal ini mungkin terlalu kurang atau terlalu longgar.
      6. Jumlah test terlalu sedikit sehingga tidak mewakili sampel materi pembelajaran.
      7. Jawaban masing-masing item bisa diprediksi oleh siswa.
    2. Faktor yang berasal dari administrasi dan skor :
      1. Waktu pengerjaan tidak cukup sehingga siswa memberikan jawaban dalam situasi tergesa-gesa.
      2. Adanya kecurangan dalam test sehingga tidak bisa dibedakan mana yang belajar dan mana yang curang.
      3. Pemberian petunjuk dari pengawas yang tidak dapat dilakukan pada semua siswa.
      4. Teknik pensekoran yang tidak konsisten, misalnya pada test essay.
      5. Siswa tidak dapat mengikuti arahan yang diberikan dalam test baku.
      6. Adanya joki yang masuk dan menjawab item yang diberikan.


 

  1. Keajegan Reliabilitas

    Reliabilitas dapat diartikan dengan sama dengan konsistensi atau keajegan. Suatu instrumen evaluasi, dikatakan mempunyai nilai reliabilitas tinggi apabila test yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur yang hendak diukur. Ini berarti semakin reliabel suatu test, semakin yakin kita dapat menyatakan bahwa dalam hasil suatu test mempunyai hasil yang sama ketika dilakukan test kembali.

    Reliabilitas suatu test pada umumnya dapat diekspresikan secara numerik dalam bentuk koefisien yang besarnya -1 > 0 > +1. Koefisien tinggi menunjukkan reliabilitas tinggi. Sebaliknya koefisien rendah maka reliabilitas rendah.

    Reliabilitas soal merupakan ukuran yang menyatakan tingkat keajegan atau kekonsistenan suatu soal test. Untuk mengukur tingkat keajegan soal ini digunakan perhitungan Alpha Crombach. Rumus yang digunakan dinyatakan dengan :


     

    Keterangan :

    n = banyaknya butir soal

    Si 2 = jumlah varians skor tiap item

    St 2 = varians skor total

    Rumus untuk mencari varians adalah :


     

    Interpretasi nilai r11 mengacu kepada pendapat Guilford (Ruseffendi, 1991b:191) :

    r11 ≤ 0,2 reliabilitas : sangat rendah

    0,2 < r11 0,4 reabilitas : rendah

    0,4 < r11 0,7 reabilitas : sedang

    0,7 < r11 0,9 reabilitas : tinggi

    0,9 < r11 1,0 reabilitas : sangat tinggi


     

  2. Daya Pembeda

    Untuk perhitungan daya pembeda (DP), dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

    1. Para siswa didaftarkan dalam peringkat pada sebuah tabel.
    2. Dibuat pengelompokkan siswa dalam dua kelompok, yaitu kelompok atas terdiri atas 50 % dari seluruh siswa yang mendapat skor tinggi dan kelompok bawah terdiri atas 50 % dari seluruh siswa yang mendapat skor rendah.

    Daya pembeda ditentukan dengan :


     

    Keterangan :

    SA = jumlah skor kelompok atas pada butir soal yang diolah

    SB = jumlah skor kelompok bawah pada butir soal yang diolah

    IA = jumlah skor ideal salah satu kelompok pada butir soal yang diolah

    Interpretasi nilai DP mengacu kepada pendapat (Ruseffendi, 1991:203-204) :

    0,4 atau lebih : sangat baik

    0,3 – 0,39 : cukup baik, mungkin perlu diperbaiki

    0,2 – 029 : minimun, perlu diperbaiki

    0,19 ke bawah : jelek, dibuang atau dirombak.


     

  3. Tingkat Kesukaran

    Tingkat kesukaran (TK) pada masing-masing butir soal dihitung dengan menggunakan rumus :


     

    Keterangan :

    TK = Tingkat Kesukaran

    SA = jumlah skor kelompok atas

    SB = jumlah skor kelompok bawah

    n = jumlah siswa kelompok atas dan kelompok bawah

    maks = skor maksimal soal yang bersangkutan

    Sementara kriteria interpretasi tingkat kesukaran digunakan pendapat Sudjana (1993:137) :

    0,00 – 0,30 : sukar

    0,31 – 0,70 : sedang

    0,71 – 1,00 : mudah


     

  4. Langkah-langkah Menguji Soal

    Untuk lebih praktisnya akan diberikan beberapa langkah praktis untuk menguji soal, misalnya diketahui data test sebagai berikut :

No

Nama

Item Soal

Jml

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1

Aa Navis

0

0

3

0

6

0

0

0

0

0

9

2

Adi Ilham

3

2

3

0

3

0

0

5

0

0

16

3

Aditya

0

8

0

0

0

5

0

5

0

0

18

4

Aditya Andriana

3

5

0

0

9

5

0

5

0

0

27

5

Ayi Jauhar

0

5

3

0

0

0

0

0

0

0

8

6

Dindin

3

2

3

0

6

0

0

5

0

15

34

7

Dita Aulia Utami

0

2

0

0

0

5

0

0

0

0

7

8

Ebin Malik MY

0

5

3

0

9

0

0

5

0

15

37

9

Elvira

0

2

3

0

6

5

0

5

15

0

36

10

Fahmi Alfiannur

3

0

0

0

9

5

0

5

0

15

37

11

Fajar Ismi C

0

5

3

0

0

0

0

0

0

0

8

12

Farhan

3

2

0

0

9

5

0

5

0

0

24

13

Hendrik S

3

0

0

0

3

5

0

5

0

0

16

14

Husni M

0

5

0

0

6

5

5

0

15

0

36

15

Iis

3

5

3

0

0

5

0

5

0

0

21

16

Imas Masfufah

3

0

3

0

0

0

0

15

15

0

36

17

Lora M S

3

0

0

0

6

5

0

5

0

0

19

18

M. Risdan

3

0

0

0

9

5

0

5

0

0

22

19

Nijar Fauji

3

5

3

0

6

5

0

5

15

0

42

20

Rafiq

0

2

3

0

6

0

0

0

0

0

11

21

Rifa

0

5

0

0

6

5

0

5

15

0

36

22

Risal

0

0

3

0

6

0

0

0

0

0

9

23

Sansa

3

0

0

0

9

5

0

5

0

15

37

24

Sara

0

5

3

0

6

0

0

0

0

0

14

25

Tina

0

0

3

0

0

0

0

0

0

0

3

26

Yosef

3

5

5

0

6

5

0

5

15

0

44

Jumlah

39

70

47

0

126

75

5

80

90

75

607

∑X 2

117

338

151

0

900

375

25

400

1350

1125

18239


 

  1. Kesahihan/ Validitas

    Untuk menguji validitas soal, maka hasil pekerjaan siswa cantumkan seperti di atas, selanjutnya cari nilai-nilai yang dibutuhkan, untuk menghitungnya bisa digunakan kalkulator, program komputer seperti Excel, SPSS, Disrel, dan sebagainya. Selanjutnya hitung korelasi antara nilai hasil uji coba dengan nilai rata-rata harian. Korelasi ini dihitung menggunakan rumus produk momen dari Pearson dengan formula sebagai berikut :


     

Proses perhitungan sebagai berikut, dengan N = 26 :

Soal Nomor 1


 


 


 


 

Berdasarkan kriteria nilai rxy = 0,44 termasuk kategori cukup.


 

Soal Nomor 2


 


 

Berdasarkan kriteria nilai rxy = 0,15 termasuk kategori sangat rendah.


 

Soal Nomor 3


 

Berdasarkan kriteria nilai rxy = -0,04 termasuk kategori sangat rendah.

Soal Nomor 4


 

Berdasarkan kriteria nilai rxy = termasuk kategori sangat rendah.


 

Soal Nomor 5


 

Berdasarkan kriteria nilai rxy = 0,51 termasuk kategori cukup.


 

Soal Nomor 6


 

Berdasarkan kriteria nilai rxy = 0,49 termasuk kategori cukup.


 

Soal Nomor 7


 

Berdasarkan kriteria nilai rxy = 0,20 termasuk kategori rendah.


 

Soal Nomor 8


 

Berdasarkan kriteria nilai rxy = 0,58 termasuk kategori cukup.


 

Soal Nomor 9


 

Berdasarkan kriteria nilai rxy = 0,66 termasuk kategori tinggi.


 

Soal Nomor 10


 

Berdasarkan kriteria nilai rxy = 0,50 termasuk kategori cukup.


 

  1. Reliabilitas

    Reliabilitas tes dihitung dengan menggunakan rumus reliabilitas untuk tes uraian sebagai berikut :


     

    Rumus untuk mencari varians adalah :


     

Varian soal no. 1


 


 


 


 


 

Varian soal no. 6


 


 


 


 


 

Varian soal no. 2


 


 


 


 


 

Varian soal no. 7


 


 


 


 


 

Varian soal no. 3


 


 


 


 

 

Varian soal no. 8


 


 


 


 

 

Varian soal no. 4


 


 


 


 


 

Varian soal no. 9


 


 


 


 


 

Varian soal no. 5


 


 


 


 


 

Varian soal no. 10


 


 


 


 


 


 

Sehingga Si 2 = 2,25 + 5,75 + 2,6 + 0 + 11,1 + 6,1 + 0,92 + 5,9 + 39,9 + 34,1 = 108,62

Untuk varians totalnya adalah :


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Koefisien realibilitas 0,396 menyatakan bahwa soal yang dibuat reliabilitasnya rendah.

  1. Tingkat Kesukaran

    Tingkat kesukaran tes dihitung dengan menggunakan rumus tingkat kesukaran untuk tes uraian, sebagai berikut :


     


 

Hasil uji coba kelompok atas

No

Nama

Item Soal

Jml

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1

Yosef

3

5

5

0

6

5

0

5

15

0

44

2

Nijar Fauji

3

5

3

0

6

5

0

5

15

0

42

3

Ebin Malik MY

0

5

3

0

9

0

0

5

0

15

37

4

Fahmi Alfiannur

3

0

0

0

9

5

0

5

0

15

37

5

Sansa

3

0

0

0

9

5

0

5

0

15

37

6

Elvira

0

2

3

0

6

5

0

5

15

0

36

7

Husni M

0

5

0

0

6

5

5

0

15

0

36

8

Imas Masfufah

3

0

3

0

0

0

0

15

15

0

36

9

Rifa

0

5

0

0

6

5

0

5

15

0

36

10

Dindin

3

2

3

0

6

0

0

5

0

15

34

11

Aditya Andriana

3

5

0

0

9

5

0

5

0

0

27

12

Farhan

3

2

0

0

9

5

0

5

0

0

24

13

M. Risdan

3

0

0

0

9

5

0

5

0

0

22

Jumlah

27

36

20

0

90

50

5

55

90

75

448


 

Hasil Uji Coba Kelompok Bawah

No

Nama

Item Soal

Jml

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1

Iis

3

5

3

0

0

5

0

5

0

0

21

2

Lora M S

3

0

0

0

6

5

0

5

0

0

19

3

Aditya

0

8

0

0

0

5

0

5

0

0

18

4

Adi Ilham

3

2

3

0

3

0

0

5

0

0

16

5

Hendrik S

3

0

0

0

3

5

0

5

0

0

16

6

Sara

0

5

3

0

6

0

0

0

0

0

14

7

Rafiq

0

2

3

0

6

0

0

0

0

0

11

8

Aa Navis

0

0

3

0

6

0

0

0

0

0

9

9

Risal

0

0

3

0

6

0

0

0

0

0

9

10

Ayi Jauhar

0

5

3

0

0

0

0

0

0

0

8

11

Fajar Ismi C

0

5

3

0

0

0

0

0

0

0

8

12

Dita Aulia Utami

0

2

0

0

0

5

0

0

0

0

7

13

Tina

0

0

3

0

0

0

0

0

0

0

3

Jumlah

12

34

27

0

36

25

0

25

0

0

159


 

Tingkat Kesukaran

No Soal

n

SKA

SKa

SKA + SKa

Tingkat Kesukaran

Indek

Keterangan

1

26

27

12

39

0,125

Sukar

2

26

36

34

70

0,179

Sukar

3

26

20

27

47

0,129

Sukar

4

26

0

0

0

0

Sukar

5

26

90

36

126

0,538

Sedang

6

26

50

25

75

0,576

Sedang

7

26

5

0

5

0,038

Sukar

8

26

55

25

80

0,615

Sedang

9

26

90

0

90

0,231

Sukar

10

26

75

0

75

0,192

Sukar


 

  1. Daya Pembeda

    Daya pembeda dihitung dengan menggunakan rumus DP untuk tes uraian sebagai berikut :


     


     

    Daya Pembeda

No Soal

n

SKA

SKa

SKA - SKa

Tingkat Kesukaran

Indek

Keterangan

1

26

27

12

0,09

0,09

Jelek

2

26

36

34

0,01

0,01

Jelek

3

26

20

27

-0,11

-0,11

Sangat Jelek

4

26

0

0

0

0

Sangat Jelek

5

26

90

36

0,46

0,46

Baik

6

26

50

25

0,38

0,38

Cukup

7

26

5

0

0,08

0,08

Jelek

8

26

55

25

0,46

0,46

Baik

9

26

90

0

0,46

0,46

Baik

10

26

75

0

0,38

0,38

Cukup


 

BAB III

KESIMPULAN

Sebuah tes dikatakan sebagai test yang baik jika memenuhi kriteria di bawah ini :

  1. Kesahihan/ Validitas

    Suatu instrumen evaluasi dikatakan valid jika instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur. Dalam penentuan tingkat validitas butir soal digunakan korelasi product moment Pearson. Rumus yang digunakan :


     

  2. Keajegan Reliabilitas

    Reliabilitas dapat diartikan dengan sama dengan konsistensi atau keajegan. Suatu instrumen evaluasi, dikatakan mempunyai nilai reliabilitas tinggi apabila test yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur yang hendak diukur.

    Untuk mengukur tingkat keajegan soal ini digunakan perhitungan Alpha Crombach. Rumus yang digunakan dinyatakan dengan :


     

  3. Daya Pembeda

    Daya pembeda ditentukan dengan rumus :


     

  4. Tingkat Kesukaran

    Tingkat kesukaran (TK) pada masing-masing butir soal dihitung dengan menggunakan rumus :


     

DAFTAR PUSTAKA


 

Asep Jihad, Drs., M.Pd., Abdul Haris, Dr., M.Sc., 2009, Evaluasi Pembelajaran, Multi Pressindo, Yogyakarta


 

Sukardi, Prof., H.M., M.S., Ph.D, 2009, Evaluasi Pendidikan, Prinsip dan Operasionalnya, Bumi Aksara, Jakarta.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. JawHarie.Blogspot.com - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger