Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Perkembangan Pendidikan Islam di Kalimantan dan Sulawesi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penulisan
Perjalanan hidup manusia penuh dengan ketidaksempurnaan, ia membutuhkan contoh dan tauladan dari orang-orang sebelumnya, karena itu manusia menganggap penting untuk bercermin kepada kejadian yang telah lalu yang disebut sejarah, sebagaimana disampaikan oleh Al-Quran surat Al-Hasyru ayat 18 yang artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Pendidikan merupakan hal penting dalam kehidupan manusia, melalui pendidikan manusia bisa terus berkembang dalam berbagai bidang, dengan pendidikan manusia hidup lebih bermartabat, dengan pendidikan berbagai persoalan kehidupan diselesaikan, mengingat pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia maka akan dijelaskan bagaimana sejarah perkembangan pendidikan di Kalimantan dan Sulawesi sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah pendidikan di republik tercinta ini.

B. Tujuan Penulisan
Mahasiswa sebagai figur intelektual di masyarakat harus pandai bercermin pada kejadian yang telah lalu, agar dapat mengambil pelajaran dari kejadian tersebut dan tidak terjerumus pada lubang yang sama untuk yang kedua kali. Selain itu mahasisiwa Fakultas Tarbiyah sudah selayaknya mengetahui sejarah pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan Islam..
Melihat pentingnya hal tersebut di atas maka penulisan makalah ini didasarkan pada beberapa tujuan sebagai berikut :
1. Sebagai wahana memperluas wawasan dan pengetahuan penulis tentang Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia.
2. Sebagai bahan diskusi mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (SPII) di semester 3 B Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI Institut Agama Islam Darussalam Ciamis.
3. Semoga bisa menjadi sumbangan yang berarti bagi perkembangan keilmuan di lingkungan kampus dan masayarakat.
C. Batasan Pembahasan
Luasnya pembahasan yang berhubungan dengan Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia dan kemampuan penulis yang terbatas menjadi ispisari bagi penulis untuk membatasi pembahasan hanya menjelaskan Kerajaan Islam di Kalimantan dan Sulawesi, agar pembahasan menjadi terfokus dan mendalam.

D. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dalam memahami materi yang dibahas maka penulis mengajukan sistematika penulisan sebagai berikut :
1. Menjelaskan Kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan
2. Perkembangan Pendidikan Islam di Kalimantan
3. Menjelaskan Kerajaan-kerajaan Islam di Sulawesi
4. Menjelaskan Perkembangan Pendidikan Islam di Sulawesi




BAB II
PEMBAHASAN

A. Kerajaan Islam di Kalimantan
Di Kalimantan ada banyak kerajaan, berikut nama nama kerajaan yang ada di beberapa wilayah di Kalimantan :
1. Kalimantan Barat : Tanjungpura, Kadriah, Pontianak, Kubu, Sintang, Mempawah, Meliau, Sambas, Sanggau, Selimbau, Sekadau, Landak, Tayan.
2. Kalimantan Tengah : Kotawaringin.
3. Kalimantan Selatan : Negara Daha, Banjar, Pagatan, Kusan, Sabamban, Tjingal, Sampanahan.
4. Kalimantan Timur : Kutai Kartanegara, Kutai Martadipura, Paser, Berau, Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur, Tidung.
5. Kalimantan Utara : Brunei, Sabah, Serawak, Sulu.
Diantara kerajaan-kerajaan tersebut, di sini hanya akan menjelaskan sekilas tentang kerajaan Banjar dan kerajaan Kutai Kartanegara.
1. Kerajaan Banjar
Kerajaan ini berdiri pada tanggal 24 September 1526, Kerajaan ini berpusat di Banjarmasin dan dipindahkan ke Martapura. Kerajaan Banjar dipimpin oleh raja Islam sejak awal berdirinya, pada saat itu Kerajaan Banjar dipimpin oleh Sultan Suriansyah.
Dalam pemerintahan telah ada yang dinamakan penghulu atau mufti yang kedudukannya sama dengan hakim pada saat ini tetapi berdasarkan agama Islam, ada Bujangga yang mengepalai urusan bangunan rumah agama dan rumah ibadah.
Peran kerajaan terhadap pendidikan terjadi secara tidak langsung, artinya pendidikan tidak secara langsung diselenggarakan oleh kerajaan, tetapi pemerintah mendukung terhadap upaya-upaya pendidikan yang diselenggarakan oleh para ulama, hal itu berdasarkan data bahwa kerajaan tidak mengangkat pejabat khusus yang membawahi masalah pendidikan.
2. Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai Kertanegara berdiri pada awal abad ke-13 di daerah bernama Tepian Batu atau Kutai Lama. Pada abad ke-16 Kerajaan Kutai Kartanegara berhasil menaklukan Kerajaan Kutai Martadipura. Maka Kerajaan Kutai Kartanegara berubah menjadi Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Pengaruh Islam masuk ke kerajaan pada abad ke-17 disebarkan oleh Tuan Tunggang Parangan dan diterima dengan baik oleh kerajaan.
Penulis tidak menemukan data tertulis tentang bagaimana peran kerajaan terhadap pendidikan Islam, tetapi mengingat Islam telah masuk di Kalimantan pada abad ke-15 Hijriah, tentunya proses pendidikan telah ada di lingkungan masyarakat kutai walaupun hanya dalam bentuk halaqah-halaqah.

B. Pendidikan Islam di Kalimantan
1. Islam Masuk di Kalimantan
Islam pertama kali masuk di Kalimantan adalah di daerah utara tepatnya di daerah Brunai sekitar pada tahun 1500 M. Setelah raja Brunai memeluk Islam (sekitar 1520), maka Brunai menjadi pusat penyiaran agama Islam sehingga Islam sampai ke Pilipina.
Pusat penyebaran Islam yang lain adalah di Kalimantan Barat di dekat Muara Sambas. Islam masuk ke daerah ini diperkirakan pada abad XVI di bawa oleh orang-orang dari Johor, menyusul kemudian daerah Sambas ditaklukkan oleh kerajaan Johor.
Adapun masuknya Islam di Kalimantan Selatan terjadi sekitar 1550 M atas pengaruh dari Jawa. Dikatakan bahwa raja-raja di Kalimantan Selatan memeluk agama Islam setelah mendapat bantuan dari Sultan Demak.
Daerah Timur Kalimantan terdapat kerajaan Bugis yang mendapat pengaruh Islam sekitar tahun 1620 M. Islam masuk ke daerah ini melalui jalan perkawinan orang-orang Arab dengan putri-putri raja di daerah ini.
2. Pendidikan Islam di Kalimantan
Pendidikan Islam di Kalimantan dipelopori oleh Madrasatun Najah wal Falah yang didirikan pada tahun 1918 M, hal ini menjadi inspirasi bagi berdirinya madrasah-madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah yang lain. Diantara madrasah-madrasah tersebut adalah :
b. Madrasah Perguruan Islam (Assulthaniah)
Di antara madrasah yang masyhur adalah Madrasah Perguruan Islam (Assulthaniah) di Sambas yang berdiri pada tahun 1922 M. Proses pembelajaran di madrasah ini selama 5 tahun ditambah 1 tahun kursus vak agama. Materi yang diajarkan adalah ilmu-ilmu agama ditambah pengetahuan umum.
c. Al-Raudlatul Islamiyyah
Madrasah Al-Raudlatul Islamiyyah berlokasi di Pontianak, didirikan pada tahun 1936 M. Madrasah ini menyelenggarakan dua tingkat pendidikan yaitu Ibtidaiyah selama 6 tahun dan Tsanawiyah selama 3 tahun. Materi yang diajarkan sama dengan madrasah lain yaitu ilmu agama ditambah ilmu umum.
d. Sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP)
SMIP didirikan pada tanggal 15 Oktober 1946 M di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Lama pelajarannya selama 5 tahun terdiri dari 6 kelas. Pelajaran Agama di kelas 1, 2 dan 3 sederajat dengan Tsanawiyah dan pelajaran umum sedapat-dapatnya sederajat dengan SMP Negeri.
e. Normal Islam Amuntai
Madrasah ini didirikan pada tahun 1928 oleh H. Abdur Rasyid, seorang lulusan Al-Azhar Mesir dengan nama Arabische School. Pada akhir 1941 tampuk kepemimpinan dipegang oleh Ustadz M. Arif Lubis, salah satu guru di Pondok Modern Gontor Ponorogo (Madiun) dan berubah namanya menjadi Ma’had Rasyidah Amuntai. Pada tahun 1945, nama madarasah berubah menjadi sekolah guru dengan nama Normal Islam IMI Amuntai, dengan lama pelajaran selama 6 tahun dan rencana pelajarannya disesuaikan dengan hajat masyarakat.
Selain madrasah-madrasah tersebut banyak madrasah-madrasah lainnya, diantaranya Madrasah Imad Darussalam di Martapura, Madrasah Sekolah Menengah Islam di Kandangan, Madrasah Al-Ashriah di Banjarmasin dan lain-lain.
3. Organisasi Perkumpulan Madrasah
Di kalimantan ada beberapa organisasi perkumpulan madrasah, diantaranya :
a. Persatuan Madrasah Islam Indonesia (PERMI)
Permi didirikan di Pontianak pada tahun 1954 dengan tujuan untuk menyatukan nama madrasah dengan nama yang sederhana yaitu Madrasatul Islam Al Ibtidaiyah dan Madrasatul Islam Tsanawiyah. Tujuan lainnya adalah menyatukan bahan dan sumber pelajaran, yakni menggunakan kitab-kitab keluaran Sumatera. Permi memberi ketentuan bahwa pelajaran pada madrasah-madrasah itu terdiri dari ilmu agama, bahasa Arab dan pengetahuan umum dengan porsi pengetahuan umum sekurang-kurangnya 30%. Permi juga mempunyai tujuan untuk menyatukan madrasah-madrasah dalam organisasi ini.
b. Ikatan Madrasah Islam (IMI) Amuntai
IMI didirikan pada tanggal 15 Maret 1945 dengan tujuan menciptakan adanya pendidikan dan pengajaran Islam, memperluas berdirinya perguruan tinggi Islam dan memperbaiki organisasi dan leerplan perguruan-perguruan Islam yang telah ada agar sesuai dengan hajat hidup orang banyak.
Untuk mencapai tujuan tersebut IMI melakukan rapat-rapat dengan guru-guru dan pendidik-pendidik Islam, mendirikan perguruan-perguruan Islam jika memungkinkan, menggabungkan perguruan-perguruan Islam menjadi satu serta memberikan arahan-arahan kepada perguruan-perguruan Islam tentang pendidikan, pengajaran dan organisasi.
C. Kerajaan Islam di Sulawesi
Di beberapa wilayah Sulawesi ada beberapa kerajaan yang berdiri, diantaranya di Sulawesi Selatan ada kerajaan Gowa, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Di Sulawesi Tengah ada kerajaan Banggai dan di Sulawesi Tenggara ada kerajaan Buton.
Diantara kerajaan Islam di Sulawesi adalah Kerjaan Makassar. Awalnya kerajaan ini bernama Goa dan Tallo, terletak di Sulawesi Selatan.
Sebelum abad ke-16 M, raja-raja Makassar belum memeluk Islam, baru setelah datang Datuk Ri Bandang, seorang penyiar Islam dari Sumatera, Makassar berkembang menjadi kerajaan Islam.
Sultan Alauddin (1591-1638) adalah Raja Makassar pertama yang memeluk agama Islam. Di bawah kepemimpinannya Kerajaan Makassar menjelma menjadi kerajaan maritime. Setelah Sultan Alauddin wafat, Kerajaan Makassar dipimpin oleh Muhammad Said (1639-1653). Setelah Sultan Said, raja berikutnya adalah Sultan Hasanudin (1653-1669). Pada masa pemerintahan Sultan Hasanudin ini, Kerajaan Makassar mengalami masa keemasan. Selain memajukan perdagangan, Sultan Hasanudin juga mengadakan ekspansi wilayah sehingga berhasil menguasai kerajaan-kerajaan kecil di Sulawesi Selatan seperti Luwu, Wajo, Soppeng dan Bone.
Setelah Sultan Hasanudin turun tahta, Mapasomba, putranya berusaha melanjutkan perjuangan ayahnya melawan Belanda, namun sayang pasukan Makassar dapat dipukul mundur, sehingga Kerajaan Makassar dikuasai oleh Belanda.
D. Pendidikan Islam di Sulawesi
1. Masuknya Islam ke Sulawesi
Islam pertama masuk ke Sulawesi adalah ke Sulawesi Selatan. Daerah ini di diami oleh suku Makassar dan Bugis.
Islam masuk di Sulawesi atas jasa Datuk Ri Bandang, Datuk Patimang dan Datuk Ri Tiro, namun yang paling besar perannya adalah Datuk Ri Bandang. Beliau mengadakan hubungan dengan raja Goa sehingga akhirnya raja Goa memeluk Islam sekitar tahun 1600 M dan mengubah namanya menjadi Sultan Alauddin Awwalul Islam. Sikap raja Goa ini diikuti oleh wazir besarnya, Karaeng Matopia, pembesar-pembesar kerajaan dan rakyat umum.
Islam semakin luas penyebarannya seiring dengan keberhasilan Kerajaan Goa menaklukan berbagai wilayah di Sulawesi, seperti Bone , Bima, Sumbawa dan Buton.
2. Perkembangan Pendidikan Islam di Sulawesi
Pendidikan Islam di Sulawesi pada awalnya merupakan pesantren/surau. Perkembangan pendidikan mulai pesat sejak adanya alim ulama Bugis yang datang dari tanah suci Mekah. Sebelum kedatangan mereka, pendidikan Islam dipelopori oleh ulama-ulama tua, diantara yang termasyhur adalah Syaikh Yusuf Tajul Khalwati di Goa.
Pada masa terakhir yang paling berjasa dalam perkembangan Islam adalah Syaikh As’ad di Singkang. Pada dasarnya sistem dan rencana pengajaran di Sulawesi, Sumatera dan Jawa adalah sama, mengingat sumber mereka adalah sama yaitu Mekah.
Sesuai dengan perkembangan zaman, maka pendidikan mulai dilembagakan dengan didirikannya madrasah-madrasah dengan format seperti pendidikan modern. Yang pertama kali mendirikan madrasah di Sulawesi adalah Organisasi Muhammadiyah, sekitar tahun 1926.
Diantara madrasah yang ada di Sulawesi :
a. Madrasah Amiriah Islamiah di Bone
Madrasah Amiriah Islamiah didirikan pada tahun 1933 di Watampone Bone oleh Persatuan Ulama dan pemuka-pemuka rakyat. Sebagai pelindung utama adalah raja Bone, Andi Mappanjukki.
Materi yang diajarkan tidak hanya ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab, tetapi juga pengetahuan umum.
Madrasah Amiriah mengelola tiga tingkat pendidikan sekaligus, yaitu tingkat Ibtidaiyah selama 3 tahun, tingkat Tsanawiyah selama 3 tahun dan tingkat Muallimin selama 2 tahun.
Rencana pelajaran di Madrasah Amiriah Islamiah diatur sebagai berikut : tingkat Ibtidaiyah diajarkan 50% agama dan 50% umum, pada tingkat Tsanawiyah komposisi berubah dengan perbandingan 60:40 dan tingkat Muallimin berubah menjadi 80:20.
Dalam perkembangan berikutnya Madrasah Amiriah berubah menjadi Sekolah Menengah Islam (1952), pada tahun 1954 berubah menjadi PGAP (Pendidikan Guru Agama Pertama).
b. Madrasah Wajo Tarbiyah Islamiyah di Bugis
Pada awal perkembangannya madrasah ini merupakan halaqah yang mengambil tempat di rumah dan masjid yang dipimpin oleh Syaikh HM. As’ad bin HA. Rasyid. Selanjutnya proses pendidikan ini dilembagakan menjadi madrasah dengan nama Madrasah Wajo Tarbiayah Islamiyah pada tahun 1350 H (1931 M). Sejurus kemudian namanya berubah menjadi Madrsah As’adiyah.
Madrasah ini menyelenggarakan beberapa tingkat pendidikan, diantaranya Awaliyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah. Sistem pembelajaran di madrasah ini selain menggunakan sistem belajar di kelas, juga mempertahankan sistem berhalaqah.
c. Madarasah Al-Khairat di Palu
Madrasah ini didirikan di Palu ibu kota keresidenan pada tahun 1930 M oleh Syaikh Al-Idrus. Madrasah ini mempunyai cabang yang tidak kurang dari 60 cabang yang tersebar di wilayah Sulawesi Tengah dan Utara.
Pada awalnya madrsah ini mementingkan pelajaran agama dengan bahasa Arab sebagai pengantarnya, tetapi dalam perkembangannya madrasah ini terpecah menjadi dua bagian, yang satu mementingkan pelajaran agama dan yang lain mementingkan pelajaran umum. Maka disamping madrasah-madrasah itu didirikan S.R., dan SMP. Tingkatan madrasah tertinggi pada saat itu (1959) adalah Madrasah Lanjutan Atas.
d. Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Mangkoso
Madrasah ini berdiri tahun 1938. Didirikan oleh H. Abdoerrahman Ambon Dale, salah seorang murid Syaikh H.M. As’ad, Bugis. Pada tanggal 16 Rabiul Awwal 1336 H bertepatan dengan tanggal 7 Pebruari 1947 madrasah ini diubah menjadi Daru Da’wah wal Irsyad.
e. Daru Da’wah wal Irsyad
Daru Da’wah wal Irsyad, dibentuk dengan tiga tujuan :
1) Memajukan kecerdasan umum dan peradaban manusia, serta menyampaikan ajaran-ajaran Islam dan menyadarkan umat hidup bertaqwa.
2) Menuntun umat ke arah pelaksanaan ajaran-ajaran tersebut.
3) Memelihara persatuan dalam kaum Muslimin dan perdamaian dalam masyarakat ramai.
Bedasarkan Konferensi Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan di Pare-Pare pada Agustus 1954, maka Daru Da’wah wal Irsyad menyelenggarakan beberapa tingkat madrasah, yaitu Taman Kanak-kanak Islam selama 2 tahun, Sekolah Rakyat Islam selama 6 tahun, Sekolah Menengah Pertama Islam selama 4 tahun dan Sekolah Menengah Atas Islam selama 3 tahun.
Daru Da’wah wal Irsyad juga mendirikan sekolah-sekolah kejuruan, yaitu Sekolah Kemasyarkatan Islam (SKI), Kursus Dagang Islam (KDI), Sekolah Guru Islam (SGI), Sekolah Guru Taman Kanak-kanak Islam (SGTKI) dan Sekolah Kerumahtanggaan Islam (SKTI).




BAB III
KESIMPULAN
Perkembangan pendidikan di Kalimantan dan Sulawesi tidak lepas dari tersebarnya Islam ke berbagai wilayah di daerah tersebut. Islam semakin luas penyebarannya setelah Islam dianut oleh raja-raja dari Kerajaan di daerah tersebut. Diantara Kerajaan Islam yang besar pengaruhnya di Kalimantan adalah Kerajaan Banjar dan Kerajaan Kutai, sementara di Sulawesi adalah Kerajaan Makassar yang asalnya bernama Goa dan Tallo.
Peran Kerajaan dalam penyelenggaraan pendidikan Islam tidak terlihat secara langsung, tetapi pada dasarnya kerajaan mendukung terhadap hal tersebut, diantara bentuk dukungan tersebut adalah adanya pejabat khusus yang membawahi masalah agama dan tempat ibadah.
Pendidikan Islam di Kalimantan telah dilaksanakan sejak Islam masuk ke Kalimantan, namun pelembagaan pendidikan pertama kali dilakukan oleh Madrasatun Najah wal Falah yang didirikan pada tahun 1918 M, hal ini menjadi inspirasi bagi berdirinya madrasah-madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah yang lain. Diantara madrasah-madrasah tersebut adalah :
Madrasah Perguruan Islam (Assulthaniah) dipelopori oleh Madrasatun Najah wal Falah yang didirikan pada tahun 1918 M, hal ini mendaji inspirasi bagi berdirinya madrasah-madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah yang lain. Diantara madrasah-madrasah tersebut adalah : Madrasah Perguruan Islam (Assulthaniah), Al-Raudlatul Islamiyyah, Sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP), Normal Islam Amuntai serta madarasah-madrasah lainnya.
Untuk penyeragaman dalam pelaksanaan pendidikan maka muncullah perkumpulan-perkumpulan Madrasah diantaranya Persatuan Madrasah Islam Indonesia (PERMI) dan Ikatan Madrasah Islam (IMI) Amuntai.
Pendidikan Islam di Sulawesi pada mulanya merupakan pesantren/surau. Untuk mengimbangi perkembangan zaman, maka pendidikan mulai dilembagakan dengan didirikannya madrasah-madrasah dengan format seperti pendidikan modern. Yang pertama kali mendirikan madrasah di Sulawesi adalah Organisasi Muhammadiyah, sekitar tahun 1926.
Diantara madrasah yang ada di Sulawesi : Madrasah Amiriah Islamiah di Bone, Madrasah Wajo Tarbiyah Islamiyah di Bugis, Madarasah Al-Khairat di Palu, Madrasah, Tarbiyah Islamiyah di Mangkoso, Daru Da’wah wal Irsyad.

DAFTAR PUSTAKA

Harsono, H., dan Ibrahim, T., 2008, Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam 3., Surakarta: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Yunus, Mahmud, H. Prof, 1984, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Hidakarya Agung, Jakarta

http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Gowa

http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Banjar

http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Kutai_Kartanegara_ing_Martadipura

Dinasti-dinasti Islam di Mesir

BAB I
PENDAHULUAN

Mesir adalah suatu negeri yang mana dulunya pernah berdiri beberapa dinasti di sana, diantaranya Dinasti Fatimiah, Dinasti Ayubiah dan Dinasti Mamalik. Semua dinasti tersebut berperan besar dalam sejarah peradaban Islam dan perkembangannya yang mana sisa-sisa peradabannya masih dapat kita rasakan manfaatnya sampai sekarang, diantaranya Universitas Al Azhar yang merupakan universitas Islam terbesar.
Dalam setiap sejarah peradaban pasti ada yang namanya suatu masa kejayaan dan kemunduran. Begitu pun yang terjadi pada dinasti-dinasti di Mesir, semuanya mengalami kemajuan dan kemunduran pada masanya, yang mana kemundurannya selalu dibarengi kehancuran dan setelah hancur, berdirilah dinasti yang baru sebagai pengganti dinasti yang telah hancur tersebut.
Dalam makalah ini, penyusun akan memaparkan tentang sejarah peradaban Islam di Mesir dari beberapa aspek, diantaranya kemajuan, kemunduran sampai kehancuran dan diganti/berdirinya lagi dinasti lainnya di negeri Mesir tersebut.



BAB II
PEMBAHASAN MATERI
DINASTI-DINASTI ISLAM DI MESIR

1. Dinasti Fatimiah
Dinasti ini dinisbatkan kepada Fatimah Al Zahra (Putri Nabi saw dan istri Ali bin Abi Thalib). Pendiri dinasti Fatimiah (Ubaid Allah al Mahdi) mengaku sebagai keturunan Ali bin Abi Thalib ra. dan Fatimah ra., melalui garis Ismail putra Ja’far al Shadiq.
Ubaid Allah al Mahdi berpindah dari Suria ke Afrika Utara karena propaganda Syi’ah di daerah ini mendapat sambutan baik, terutama dari suku Berber Ketama, dengan dukungannya, Ubaid Allah al Mahdi menumbangkan gubernur Aglabiah di Afrika, Rustamiyah Khariji di Tahart dan Idrisiyah Fez dijadikan sebagai bawahan.
Setelah wafat pada tahun 934 M, al Mahdi digantikan oleh putranya, Abul Qasin dengan gelar Al Qasim (323-355 H). Dinasti Fatimiah ini mengalami beberapa kali pergantian pemimpin, dimana masa kemajuannya itu terjadi pada masa Al Aziz (365 H/975 M).

a. Kemajuan Pemerintahan
Pengelolaan negara yang dilakukan dinasti Fatimiah dengan mengangkat para menteri. Dinasti Fatimiah membagi kementrian menjadi dua kelompok, pertama kelompok militer yang terdiri atas tiga jabatan pokok, (1) Pejabat tinggi militer dan pengawal khalifah, (2) Petugas keamanan, dan (3) Resimen-resimen, kedua kelompok sipil, yang terdiri atas (1) Qadhi (hakim dan direktur percetakan uang), (2) Ketua dakwah yang memimpin Dar al Hikmah (pengkajian), (3) Inspektur pasar (pengawas pasar, jalan, timbangan dan takaran), (4) Bendahara Negara, (5) Kepala urusan rumah tangga raja, (6) Petugas pembaca Al Quran, dan (7) Sekretaris berbagai departemen.

b. Penyebaran Faham Syi’ah
Ketika al Mu’iz berhasil menguasai Mesir, di tempat ini berkembang 4 madzhab fikih, Maliki, Syafi’i, Hanafi dan Hambali. Sedangkan al Mu’iz menganut faham Syi’ah, oleh karena itu al Mu’iz mengayomi dua kenyataan ini dengan mengangkat hakim dari kalangan Sunni dan Syi’ah, dan Sunni hanya menduduki jabatan-jabatan rendahan. Pada tahun 379 M, semua jabatan diberikan di berbagai bidang politik, agama dan militer dipegang oleh Syi’ah. Oleh karena itu sebagian pejabat yang Sunni beralih ke Syi’ah supaya jabatannya naik.
Di sisi lain, al Mu’iz membangun toleransi beragama, sehingga pemeluk agama lain, seperti Kristen, diperlakukan dengan baik dan diantara mereka diangkat menjadi pejabat negara/istana.

c. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Pembangunan mesjid Al Azhar yang di dalamnya terdapat kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan sehingga berdiri jami’at (universitas) Al Azhar, salah satu perguruan Islam tertua yang dibanggakan oleh ulama Sunni.
Al Hakim berhasil mendirikan Dar al Hikmah, perguruan (akademi) Islam yang sejajar dengan lembaga pendidikan di Kordova dan Bagdad. Perpustakaan Dar al Ulum digabungkan dengan Dar al Hikmah yang berisi berbagai buku ilmu pengetahuan sehingga melahirkan sejumlah ulama. Pada masa ini muncul sejumlah ulama sebagai berikut :
1) Muhammad al Tamimi (ahli fisika dan kedokteran)
2) Al Kindi (ahli sejarah dan filsafat)
3) Al Nu’man (ahli hukum dan menjabat sebagai hakim)
4) Ali Ibnu Yunus (ahli astronomi)
5) Ali al Hasan Ibnu al Khaitami (ahli fisika dan optik)

d. Kemunduran dan Akhir Dinasti Fatimiah
Setelah al Aziz meninggal, diganti oleh al Hakim yang banyak melakukan kerusakan, membunuh sejumlah menteri, merusak gereja suci (Holly Spukhre) di Palestina tahun 1009 M, yang menjadi salah satu pemicu perang salib, dan ia mengaku sebagai inkarnasi Tuhan dan akhirnya ia mati dibunuh atas konspirasi Sitt al Mulk dengan Muqattam. Setelah meninggal, al Hakim digantikan oleh putranya, Abu Hasan Ali al Zhahiri (1021-1035 M) dan ia meninggal karena sakit. Penggantinya ialah Abu Tamim Ma’ad al Muntasir (ketika berusia 7 tahun). Pada saat bersamaan, Palestina berontak, Saljuk berhasil menguasai Asia Barat, propinsi-propinsi di Afrika menolak membayar pajak dan menyatakan lepas dari Fatimiah atas dukungan Dinasti Bani Abbas. Tripoli dan Tunisia dikuasai oleh Bangsa Normandia (1071 M).
Keadaan Fatimiah diperparah lagi oleh keadaan alam, wabah penyakit dan kemarau panjang sehingga sungai Nil kering, menjadi sebab perang saudara. Abu Tamim Ma’ad meninggal dan diganti oleh anaknya, al Musta’li, akan tetapi Nijar anak Abu Tamim Ma’ad al Muntasir yang tertua melarikan diri ke Iskandariah dan menyatakan diri sebagai khalifah, dan Fatimah pecah menjadi dua, Nijari dan Musta’li. Pada masa al Musta’li, pasukan salib melakukan serangan sehingga menguasai Antokia hingga Bait al Maqdis. Setelah wafat al Musta’li, diganti al Amir kemudian al Hafizh, kemudian al Zafir.

2. Dinasti Ayubiah (567-648 M)
Dinasti Ayubiah berdiri di atas puing-puing dinasti Fatimiah Syi’ah di Mesir. Setelah meninggal, Khalifah al Adil dari Fatimiah pada tahun 567 H adalah tanda berakhirnya dinasti Fatimiah dan kekuasaan diambil oleh Salahudin al Ayubi. Al Ayubi diakui sebagai khalifah Mesir oleh al Muhtadi. Dinasti Bani Abbas pada tahun 1175 M dan berhasil menguasai Aleppo dan Mosul. Untuk mengatisipasi pemberontakan dari pengikut Fatimiah dan serangan dari tentara salib, al Ayubi membangun benteng kuat di Mukattam. Tempat ini menjadi pusat pemerintahan dan militer.

a. Perang salib dan konflik internal
Sebagian waktu al Ayubi dihabiskan untuk menghalau tentara salib, pada zamannya, pasukan salib dipimpin oleh tiga raja, Frederick Barbosa, Philip II (Prancis) dan Richard I (Inggris). Perang antara militer al Ayubi dengan pasukan salib berlangsung hingga tahun 1922 M yang diakiri dengan perjanjian Ramalah, isinya sebagai berikut :
1) Yerusalem tetap berada di tangan Islam dan umat kristen diperbolehkan menziarahinya.
2) Tentara salib mempertahankan pantai Syiria dari Tyre sampai ke Jaffa.
3) Umat Islam akan mengendalikan relik Kristen kepada orang Kristen.
Pada tahun 1199 M, al Ayubi meninggal dunia di Damaskus, ia digantikan oleh saudaranya. Sultan al Adil. Pada tahun 1218 M, al Adil meninggal dunia setelah berperang melawan pasukan salib dan kota Dimyath jatuh ke tentara salib. Setelah meninggal al Adil digantikan oleh al Kamil.
Al Kamil melanjutkan perang melawan tentara salib, akan tetapi antara al Kamil dengan saudaranya al Mulk al Mu’azham (gubernur Damaskus) terjadi konflik. Oleh karena itu al Kamil mengirim duta kepada Frederick dengan menawarkan kerja sama dan Jerusalem dijadikan sebagai imbalan. Pada tahun 1229, terjadi perjanjian antara al Kamil dengan Frederick yang isinya sebagai berikut :
1) Jerusalem dengan Betlehem, Nazaret dan rute haji ke Jaffa dan Arce akan menjadi kekuasaan absolut kaisar dengan pengecualian bahwa area masjid umar di Jerusalem tetap menjadi milik terbatas bagi umat Islam.
2) Tawanan-tawanan Kristen di bebaskan.
3) Kaisar harus melindungi Sultan dari serangan-serangan musuh.
4) Perjanjian ini berlaku selama dua tahun.
Setelah meninggal, al Kamil diganti oleh putranya, Abu Bakar dengan gelar al Adil II (selam 3 tahun). Kepemimpinan Abu Bakar ditolak saudaranya, al Malik al Shalih Najm al Din Ayyub. Budak-budak Abu Bakar bersekongkol dengan al Malik al Shalih sehingga berhasil menjatuhkan Abu Bakar dan mengangkat al Malik al Shalih sebagai sultan.

b. Kemajuan ilmu pengetahuan
Salahudin al Ayubi berhasil mendirikan tiga buah madrasah di Kairo dan Iskandariah untuk mengembangkan madzhab sunni. Al Kamil mendirikan Sekolah Tinggi al Kamiliyah yang sejajar dengan perguruan tinggi lainnya. Ibn Khalikan menggambarkan bahwa al Kamil adalah pecinta ilmu pengetahuan, pelindung para ilmuwan dan seorang muslim yang bijaksana.

c. Kemunduran dan Akhir Ayubiyah.
Untuk mempertahankan kekuasaan, al Malik al Shalih mendatangkan budak-budak dari Turki dalam jumlah besar untuk dilatih kemiliteran yang ditempatkan di dekat sungai Nil yang disebut juga al Bahr, sehingga mereka disebut Mamluk al Bahri. Pasukan ini dijadikan pasukan saingan yang sudah ada sebelumnya, militer yang berasal dari Kurdi.
Setelah meninggal, al Malik as Shalih diganti oleh anaknya, Turansyah. Konflik terjadi antara Mamluk Bahri dengan Turansyah, karena Turansyah dianggap mengabaikan perintah Mamluk al Bahri dan lebih mengutamakan tentara dari Kurdi. Oleh karena itu Mamluk al Bahri di bawah pimpinan Baybars dan Izzudin Aybak melakukan kudeta terhadap Turansyah (1250 M). Turansyah terbunuh, Baybars dan Izzudin Aybak adalah perintis berdirinya dinasti Mamalik di Mesir.

3. Dinasti Mamalik (648-922 H)
Setelah kudeta, Mamluk al Bahri sepakat menjadikan Syajarat al Durr (mantan isteri al Malik al Shalih dari kalangan Mamluk al Bahri) sebagai pimpinan yang berlangsung selama tiga bulan. Setelah itu Syajarat al Durr menikah dengan Aybak, dengan perkawinan itu, Aybak akhirnya diberi kewenangan untuk menjalankan roda pemerintahan. Musa keturunan terakhir dari Ayubiah dibunuh oleh Aybak sehingga tidak ada lagi saingan baginya.
Setelah meninggal Aybak diganti oleh putranya, Ali. Karena masih muda, Ali mengundurkan diri dan diganti oleh wakilnya, Qutus (1259 M). Ketika Qutus menjadi sultan, Baybars yang semula melarikan diri ke Syiria karena tidak suka kepada Aybak, kembali ke Mesir pada tahun 1260 M. Mesir diserang oleh Mongol tetapi berhasil dihalau di Ain Jalut atas kerja sama antar pasukan Baybars dan Qutus.
Setelah wafat, Qutus digantikan oleh Baybars. Ia adalah seorang yang cerdas dan dianggap sebagai sultan terbesar diantara 47 sultan Mamalik. Setelah wafat, Baybars diganti oleh al Shalih Haji, akan tetapi, kendali pemerintahan kemudian berpindah ke tangan Mamluk Burji (budak yang berasal dari Turki). Mereka didatangkan oleh Sultan al Nashir Muhamad ibn Qulawun (1279-1290 M) karena curiga terhadap pimpinan militer Mamluk al Bahri. Sultan pertama dari Mamluk al Burji adalah al Malik al Zahir Syaf al Din Barquq setelah berhasil menumbangkan al Shalih Haji.

a. Kemajuan Ilmu Ektra dan Agama
Dalam bidang sejarah terdapat Ibnu Khalikan, Ibnu Tagribardi, Ibnu Khaldun dan Ibnu Kalsun. Nashir al Din al Thusi (ahli astronomi), Abu al Faraj al Ibri (ahli matematika), Abu al Hasan Ali al Nafis (ahli kedokteran, penemu susunan dan peredaran darah dalam paru-paru manusia). Abu al Mun’im Dimyathi (ahli kedokteran hewan), al Razi (perintis psikoterapi). Dalam bidang agama terdapat sejumlah ulama besar, Ibnu Taimiyah (reformasi), Jalal al Din al Suyuthi (ahli tafsir dan fakih), Ibn Hajar al Asqalani (ahli ilmu hadits) dan Ibn Qayyim (ahli fikih).

b. Akhir Mamalik di Mesir
Sejak peralihan dari kepemimpinan Mamluk Bahri ke Mamluk Burji (1382), dinasti Mamluk mengalami kemunduran, karena para sultan dari Mamluk Burji tidak memiliki keterampilan manajerial untuk mengendalikan negara, mereka haany mahir dalam bidang militer. Disamping itu, sebagian sultan Mamluk Burji menjadi pemabuk dan tidak menyukai ilmu pengetahuan. Keadaan diperparah dengan Syaykh al Balad yang hanya mampu berbahasa Turki dan tidak mampu berbahasa Arab, sehingga komunikasi dengan rakyat mesir menjadi terhambat.

BAB III
KESIMPULAN

Di negara Mesir sekarang, dahulu pernah berdiri beberapa dinasti, yaitu dinasti Fatimiah, dinasti Ayubiah dan Dinasti Mamalik, yang mana semua dinasti ini pernah mengalami masa kejayaannya di berbagai bidang, terutama dalam bidang pendidikan yang sampai sekarang masih terasa manfaatnya oleh umat masa kini, diantaranya Universitas Al Azhar Kairo, Perpustakaan Dar al Ulum dan hasil karya para ilmuwan jamannya yang sekarang juga masih bermanfaat.


DAFTAR PUSTAKA

A. Hasyimy, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1979

Mubarok, Jaih, Dr. M.Ag, Sejarah Peradaban Islam, Bandung : Pustaka Bani Qurais, 2005.


Peradaban Sebelum Islam

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penulisan
Perjalanan hidup manusia penuh dengan ketidaksempurnaan, ia membutuhkan contoh dan tauladan dari orang-orang sebelumnya, karena itu manusia menganggap penting untuk bercermin kepada kejadian yang telah lalu yang disebut sejarah, sebagaimana disampaikan oleh Al-Quran surat Al-Hasyru ayat 18 yang artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Nabi Muhammad diutus ke dunia ini adalah sebagai rahmatan lil ’alamin. Karenanya setiap kejadian yang terjadi pada zamannya dan zaman setelahnya perlu untuk dikaji lebih mendalam sehingga fungsi rahmatan lil ’alamin yang terdapat dalam diri Nabi bisa diungkap secara menyeluruh dan mendalam serta dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Karena itu pada makalah ini akan dibahas bagaimana peradaban Arab pra Islam dan bagaimana peran kepemimpinan Nabi Muhammad dalam dunia Islam.

B. Tujuan Penulisan
Mahasiswa sebagai figur intelektual di masyarakat harus pandai bercermin pada kejadian yang telah lalu, agar dapat mengambil pelajaran dari kejadian tersebut dan tidak terjerumus pada lubang yang sama untuk yang kedua kali. Selain itu mahasisiwa Fakultas Tarbiyah sudah selayaknya mengetahui sejarah peradaban Islam, khususnya peradaban pada zaman Nabi Muhammad Saw sehingga bisa mensuritauladani akhlak Rasulullah Saw.
Melihat pentingnya hal tersebut di atas maka penulisan makalah ini didasarkan pada beberapa tujuan sebagai berikut :
1. Sebagai wahana memperluas wawasan dan pengetahuan penulis tentang Sejarah Peradaban Islam, khususnya pada zaman Nabi Muhammad hidup.
2. Sebagai bahan diskusi mata kuliah Sejarah Peradaban Islam (SPI) di semester 3 B Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI Institut Agama Islam Darussalam Ciamis.
3. Semoga bisa menjadi sumbangan yang berarti bagi perkembangan keilmuan di lingkungan kampus dan masayarakat.

C. Batasan Pembahasan
Luasnya pembahasan yang berhubungan dengan Sejarah Peradaban Islam dan kemampuan penulis yang terbatas menjadi ispisari bagi penulis untuk membatasi pembahasan hanya menjelaskan peradaban Arab Pra Islam dan seputar kepemimpinan Nabi Muhammad Saw, agar pembahasan menjadi terfokus dan mendalam.

D. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dalam memahami materi yang dibahas maka penulis mengajukan sistematika penulisan sebagai berikut :
1. Menjelaskan Peradaban Dunia sebelum Islam
2. Menjelaskan Peradaban Arab Pra Islam
3. Menjelaskan Peran Nabi Muhammad sebagai Pemimpin Agama



BAB II
PEMBAHASAN

Peradaban adalah kebudayaan (hasil karya, rasa dan cipta masyarakat) yang sudah tergolong maju atau telah mencapai taraf perkembangan yang tinggi (Jaih Mubarok, 44:2003). Tetapi para ahli tidak menjelaskan bagaimana cara mengukur bahwa suatu kebudayaan telah dianggap maju. Oleh karena itu diperlukan kebudayaan lain sebagai pembanding ketika kita ingin mengukur seberapa majukah suatu kebudayaan. Untuk itu di sini akan dibahas dahulu peradaban Arab sebelum Islam sebagai bahan perbandingan dengan peradaban Arab setelah Islam.
A. Peradaban Dunia Sebelum Islam
Secara geografis, Jazirah Arab bentuknya memanjang, ke sebelah utara berbatasan dengan Palestina dan padang Syam, ke sebelah timur Hira, Dijla (Tigris), Furat (Euphrates) dan Teluk Persia, ke sebelah selatan Samudera Indonesia dan Teluk Aden, sedang ke sebelah barat Laut Merah. Jadi, dari sebelah barat dan selatan daerah ini dilingkungi lautan, dari utara padang sahara serta dari timur padang sahara dan Teluk Persia, letak geografis ini telah melindunginya dari serangan dan penyerbuan penjajahan serta penyebaran agama.
Jazirah Arab terletak di antara dua kebudayaan besar dunia, yaitu Romawi di Barat dan Persia di Timur. Persia adalah ladang subur berbagai khayalan (khurafat) keagamaan dan filosof yang saling bertentangan, sedangkan Romawi telah dikuasi sepenuhnya oleh semangat kolonialisme. Negeri ini terlibat pertentangan agama , antara Romawi di satu pihak dan Nasrani di pihak lain. Negeri ini mengandalkan kekuatan militer dan ambisi kolonialnya dalam melakukan petualangan (naif) demi mengembangkan agama kristen, dan mempermainkannya sesuai dengan keinginan hawa nafsunya yang serakah.
Sementara itu, di jazirah Arabia kehidupan dalam keadaan tenang, jauh dari hal-hal di atas, mereka tidak memiliki kemewahan dan peradaban seperti Persia yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosotan-kemerosotan, filsafat keserbabolehan dan kebejatan moral yang dikemas dalam bentuk agama, mereka juga tidak memiliki kekuatan militer Romawi yang mendorong mereka melakukan ekspansi ke negara-negara tetangga, mereka tidak memiliki filosofi dan dialetika Yunani yang menjerat mereka menjadi bangsa mithos dan khurafat.
Karakteristik mereka seperti bahan baku yang belum diolah dengan bahan lain, masih menampakkan fitrah kemanusiaan dan kecenderungan yang sehat dan kuat, serta cenderung kepada kemanusiaan yang mulia, seperti setia, penolong, dermawan, rasa harga diri, dan kesucian.
Hanya saja mereka tidak memiliki ma’rifat (pengetahuan) yang akan mengungkapkan jalan ke arah itu, karena mereka hidup di dalam kegelapan, kebodohan, dan alam fitrahnya yang pertama. Akibatnya mereka sesat jalan, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan tersebut.
Kemudian mereka membunuh anak dengan dalih kemuliaan dan kesucian, memusnahkan harta kekayaan dengan alasan kedermawanan dan membangkitkan peperangan di antara mereka dengan alasan harga diri dan kepahlawanan.
Kondisi ini sesuai dengan firman Allah dalam mensifati mereka :          
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan Sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar Termasuk orang-orang yang sesat.
QS al-Baqarah (2) :198

B. Peradaban Arab Sebelum Islam
Bangsa Arab pra Islam telah memiliki budaya yang menjadi landasan dalam hidup yang diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan, diantaranya :
1. Bidang Ekonomi. Secara ekonomi, Mekah mempunyai letak yang strategis, karena Mekah merupakan tempat persinggahan pedagang-pedagang dari Persia yang hendak menuju ke Romawi dan sebaliknya. Maka transaksi perdagangan sering terjadi dan hal ini memberi efek yang kuat terhadap kemajuan ekonomi Bangsa Arab. Dalam bidang mu’amalat mereka terbiasa transaksi mubadalat (barter), jual beli, kerjasama pertanian (muzaroah) dan riba.
2. Bidang Akidah. Bangsa Arab adalah anak-anak Ismail AS. Karena itu, mereka mewarisi millah dan minhaj yang pernah dibawa oleh bapak mereka. Millah dan minhaj yang menyerukan Tauhid Allah, beribadah kepada-Nya, mematuhi hukum-hukum-Nya, mengagungkan tempat-tempat suci-Nya, khususnya Baitul Haram, menghormati Syiar-syiar-Nya dan mempertahankannya.
Setelah beberapa kurun waktu, mereka mulai mencampur-adukkan (transformasi) kebenaran yang diwarisinya itu dengan kebatilan yang menyusup kepada mereka. Seperti semua umat dan bangsa, apabila telah dikuasai kebodohan dan dimasuki tukang-tukang sihir dan ahli kebatilan, maka masuklah kemusyrikan kepada mereka. Mereka kembali menyembah berhala-berhala. Tradisi-tradisi dan kebejatan moral pun tersebar luas. Akhirnya mereka jauh dari cahaya tauhid dan ajaran hanifiyah. Selama beberapa abad mereka hidup dalam kehidupan jahiliyah sampai akhirnya datang bi’tsah Muhammad saw.
Orang yang pertama kali memasukkan kemusyrikan kepada mereka dan mengajak mereka menyembah berhala adalah Amr bun Luhayyi bin Qam’ah, nenek moyang Bani Khuza’ah.
Namun secara umum Bangsa Arab Pra Islam percaya bahwa Allah adalah Pencipta, Firman Allah SWT.
  •                (لقمن : 25)
25. dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah : "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Luqman [31]:25).

Tetapi transformasi (penyelewengan) terhadap agama mereka telah mendorong mereka untuk menjadikan berhala, pohon dan benda lain sebagai penyerta Allah SWT.
Sebagian kecil mereka masih mempertahankan akidah monoteisme seperti yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS. Mereka disebut Alhunafa. Diantara mereka adalah Umar Ibn Nufail, Zuhair Ibn Abi Salma (Jaih Mubarok, 46:2003), Qais bin Sa’idah al-Ayahdi, Ri’ab asy-Syani dan pendeta Bahira (Sirah Nabawiyah : 12).
3. Bidang Hukum. Bangsa Arab Pra Islam menjadikan adat sebagai hukum dengan berbagai bentuknya. Mereka membolehkan berpoligini dengan perempuan yang jumlahnya tidak terbatas, serta anak kecil dan perempuan tidak bisa menerima harta pusaka.
Adapun secara umum, ciri utama tantanan Arab pra Islam adalah sebagai berikut :
1. Menganut fanatisme kesukuan yang tinggi.
2. Memiliki tata sosial politik yang tertutup dengan partisipasi warga yang sedikit.
3. Mengenal hierarki sosial yang kuat
4. Kedudukan perempuan cenderung direndahkan, menurut Nurcholis Madjid, hal ini dapat dibuktikan bahwa perempuan dapat diwariskan dan perempuan tidak memperoleh harta pusaka.

C. Muhammad Saw. Sebagai Pemimpin Agama
Kaum muslimin sepakat bahwa Muhammad Saw. adalah utusan Allah dan membawa ajaran yang berasal dari Allah untuk disampaikan kepada manusia. Agar mudah dalam pemahaman tentang Muhammad Saw. sebagai Pemimpin Agama maka kita dituntut untuk mengetahui apa itu agama ? apa saja unsur-unsur agama ? bagaimana konsep kepemimpinan ? sehingga kita dapat menetapkan posisi Muhammad Saw sebagai pemimpin agama.



1. Definisi dan Unsur Agama
Ada banyak pendapat tentang definisi agama baik secara etimologi maupun terminologi. Salah satu pendapat tersebut mengatakan bahwa agama berasal dari kata A yang artinya tidak dan Gama yang artinya pergi atau berjalan, dengan demikian agama berarti tidak pergi atau tidak berjalan (tetap, kekal), hal ini dianggap sesuai mengingat bahwa agama merupakan jalan untuk meraih kehidupan yang kekal setelah mati.
Mendefinisikan agama secara terminologi para ahli beragam pendapat. M. Quraish Shihab (375:1996) menyatakan bahwa mendefinisikan kata agama tidak mudah, karena ada banyak agama yang berkembang di dunia. Salah satu definisi agama yang dikemukakan oleh sarjana Barat bahwa agama adalah organization of life around the depth dimensions of experience-varied in form, completeness, and clarity in accordance with environing culture (organisasi kehidupan tentang dimensi pengalaman yang dalam-dengan bentuk beragam, kesempurnaan dan kejelasan sesuai dengan budaya sebuah lingkungan).
Kita sebagai umat Islam tentu harus mendefinisikannya dari sudut pandang Islam. Dalam bahasa Arab, agama sepadan dengan kata ad diin dan al millah. Menurut Al Jurjani, agama adalah :
وضع الهي يدعو اصحاب العقول الى قبول ما هو عند رسول الله صلى الله عليه وسلم
Artinya : Perintah Ilahi yang mengajak orang yang berakal untuk menerima apa yang ada pada diri Rasulullah Saw.
Ibrahim Al-Baijuri dalam kitab Jauharut Tauhid (9) menyatakan bahwa agama adalah :
وضع الهي سائق لذوى العقول السليمة باختيارهم المحمودة الى ما يصلح معادهم ومعاشهم
Artinya : Perintah Ilahi yang ditujukan kepada orang yang berakal sehat, dengan pilihannya sendiri yang terpuji untuk kemaslahatan kehidupan di akhirat dan di dunia.
Dari dua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa syari’at berasal dari Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. untuk diajarkan dan diamalkan oleh manusia, sehingga manusia bisa meraih kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.
Unsur-unsur terdapat dalam agama meliputi adanya kepercayaan kepada yang gaib, adanya ajaran ketuhanan, adanya hubungan dengan Tuhan melalui upacara pemujaan dan permohonan dan dadanya sikap hidup yang ditumbuhkan oleh ketiga unsur tersebut.
2. Pembagian Agama dan Ciri-cirinya
Dari segi sumber pembentukan agama, agama dapat dibedakan menjadi dua, agama samawi (agama langit) dan agama ardhi (agama bumi) atau wadh’i. Hilman Hadikusumah yang dikutip oleh Jaih Mubarok (52-53:2003) menjelaskan bahwa agama yang termasuk samawi adalah Yahudi, Kristen dan Islam yang ciri-cirinya adalah :
a. Konsep ketuhanan bersifat monotheis.
b. Disampaikan oleh rasul sebagai utusan Tuhan.
c. Mempunyai kitab suci berdasarkan wahyu dari Allah.
d. Kitab sucinya tidak berubah karena perubahan masyarakat penganutnya.
e. Kebenaran ajaran dasarnya tahan uji terhadap kritik menurut akal manusia
f. Sistem ‘merasa dan berpikirnya’ tidak sama dengan ‘sistem merasa dan berpikir’ masyarakat penganutnya.
Agama bumi (natural religion) adalah agama yang tidak bersumber kepada wahyu Ilahi, melainkan hasil ciptaan akal pikiran dan perilaku manusia. Oleh karena itu disebut agama budaya. Ciri-cirinya adalah :
a. Konsep ketuhanan tidak monotheis, bahkan cenderung tidak jelas.
b. Tidak disampaikan oleh Rasul sebagai utusan Tuhan.
c. Kitab sucinya bukan berdasarkan wahyu Tuhan.
d. Dapat berubah dengan terjadinya perubahan masyarakat penganutnya.
e. Kebenaran ajaran dasarnya tidak tahan kritik akal manusia.
f. Sistem merasa dan berpikirnya sama dengan sistem merasa dan berpikir masyarakat penganutnya.

3. Kepemimpinan dan Kepemimpinan Nabi Muhammad
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain sehingga orang tersebut bertingkah laku sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemimpin. Kemampuan ini disebut leadership sedang orang yang dipimpin disebut leader.
Konsep kepemimpinan telah dijelaskan di dalam Al Quran dan hadits. Diantara konsep tersebut adalah seorang pemimpin harus bertanggung jawab terhadap orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus memahami kebenaran, jujur, bisa mempengaruhi, mengajak dan menyampaikan risalah agama, dan tentu saja cerdik (pandai menyelesaikan masalah).
Cikal bakal kepemimpinan Nabi Muhammad sudah terlihat semenjak beliau menjadi Nabi, sebagai contoh ketika terjadi pemugaran ka’bah pada saat usia Nabi 35 tahun, Beliau mendapat kepercayaan dari seluruh masyarakat untuk menyimpan Hajar Aswad kepada tempatnya mengalahkan pemimpin-pemimpin Quraisy, sehingga diberi gelar Al Amin. Kepemimpinan Beliau, telah menginspirasi pemimpin-pemimpin setelahnya yang disebut khulafaurrasyidin.
Nabi Muhammad adalah pembawa risalah Allah, Beliau memegang otoritas untuk menentukan hukum dalam agama, tentu saja berdasarkan wahyu dari Allah. Peran ini telah mengangkatnya secara tidak langsung sebagai pemimpin agama, apalagi segala masalah yang menimpa kaum muslimin selalu solusinya dirujukan kepada Nabi Muhammad baik ketika masih hidup maupun setelah meninggal.

4. Muhammad Bukan Sekedar Pemimpin Agama
Dari definisi agama yang disampaikan oleh Al-Jurjani secara tidak langsung menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. bukan hanya sebagai pemimpin agama tetapi agama itu sendiri. Ia merupakan rujukan bagi masyarakat Islam pada zamannya sesudahnya. Adakalanya Nabi Muhammad Saw. menetapkan sesuatu yang tidak terdapat dalam Al-Quran seperti praktek shalat lima waktu dan cara-cara shalat ditentukan oleh Nabi Muhammad Saw. jadi kalau Nabi Muhammad Saw. dianggap sebagai pemimpin agama maka bukan hanya pada tingkat teknis tetapi juga pemimpin yang bersifat ideologis dan teologis.
Menurut sejarawan Inggris, Arnold Toynbee – sebagai dikutip oleh Hans Kung, Ketokohan Nabi Muhammad Saw. harus diakui karena tiga hal :
a. Masyarakat Arab abad ke-7 mendengar dan mengikuti seruan Muhammad Saw.
b. Dalam perbandingan dengan agama politeisme yang sangat duniawi dari agama-agama kesukuan Arab lama, agama rakyat telah dinaikkan ke tingkat yang sepenuhnya baru, tingkat suatu agama tinggi yang monoteistik.
c. Orang-orang Islam menerima inspirasi, keberanian dan kekuatan Nabi Muhammad Saw. yang tak habis-habisnya untuk permulaan agama baru.
Michael Hart, pengarang buku Seratus Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia, menempatkan Nabi Muhammad sebagai pemimpin No. 1 dunia. Pertimbangan ini tidak berlebihan, karena menurutnya, Muhammad bukan hanya sebagai pemimpin agama tetapi juga diakui sebagai pemimpin politik, walaupun pada saat itu bentuk pemerintahan terbentuk secara alamiah, tanpa ada satu sistem yang mengaturnya. Pernyataan ini memberikan pengertian yang jelas bahwa Nabi Muhammad merupakan pemimpin politik disamping sebagai pemimpin agama.



BAB III
KESIMPULAN
Perkembangan Peradaban Dunia sebelum Islam terjadi di beberapa tempat diantaranya di Persia, namun sayang di Persia ini tumbuh subur berbagai khayalan (khurafat) keagamaan dan filosof yang saling bertentangan, selanjutnya di Romawi, dan mereka terlalu semangat untuk memjajah bangsa lain (kolonialisme). Di Yunani berkembangan peradaban yang cukup maju tetapi mereka terjebak dalam mithos dan khurafat.
Adapun secara umum, ciri utama tantanan Arab pra Islam adalah sebagai berikut :
1. Menganut fanatisme kesukuan yang tinggi.
2. Memiliki tata sosial politik yang tertutup dengan partisipasi warga yang sedikit.
3. Mengenal hierarki sosial yang kuat
4. Kedudukan perempuan cenderung direndahkan, menurut Nurcholis Madjid, hal ini dapat dibuktikan bahwa perempuan dapat diwariskan dan perempuan tidak memperoleh harta pusaka.
Cikal bakal kepemimpinan Nabi Muhammad sudah terlihat semenjak beliau menjadi Nabi. Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah Allah, memegang otoritas untuk menentukan hukum dalam agama, tentu saja berdasarkan wahyu dari Allah. Peran ini telah mengangkatnya secara tidak langsung sebagai pemimpin agama, apalagi segala masalah yang menimpa kaum muslimin selalu solusinya dirujukan kepada Nabi Muhammad baik ketika masih hidup maupun setelah meninggal.
Menurut sejarawan Inggris, Arnold Toynbee ketokohan Nabi Muhammad Saw. harus diakui karena tiga hal :
1. Masyarakat Arab abad ke-7 mendengar dan mengikuti seruan Nabi Saw.
2. Agama rakyat telah dinaikkan ke tingkat yang sepenuhnya baru, tingkat suatu agama tinggi yang monoteistik.
3. Orang-orang Islam menerima inspirasi, keberanian dan kekuatan Nabi Muhammad Saw. yang tak habis-habisnya untuk permulaan agama baru.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Baijuri, Ibrahim, Jauharut Tauhid, Surabaya : Darul Hikmah.
as-Syibaie, Dr. Mustafa, Sirah Nabi Muhammad Saw. Pengajaran & Pedoman, Konsis Media. (vesi pdf)
Haekal, Muhammad Husein, Sejarah Hidup Muhammad (vesi pdf)
Hart, Michael, Seratus Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia (versi .chm)
Mubarok, Jaih, Prof. Dr. M.Ag., Sejarah Peradaban Islam, Bandung : Pustaka Islamika, 2003.
Shihab, M. Quraish, Wawasan Al-Quran Tafsir Maudhu’I atas pelbagai Persoalan Ummat, Bandung : Mizan Pustaka, 2005.
Sirah Nabawiyah (vesi pdf)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. JawHarie.Blogspot.com - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger